Permainan Mematikan: Narsistik

Komandala Putra
Chapter #12

Bab 12: Mengalah

Rasmi melangkah maju, kakinya hampir menginjak kembali lantai itu—

Citra menggeleng, telapak tangannya terjulur ke Rasmi.

Rasmi mundur lagi.

Citra kembali menatap Aries. “Semua orang di ruangan ini penting.” Kita harus cari cara agar semuanya selamat.” Kalimat itu keluar tanpa rencana, tapi ia tidak berniat menariknya kembali.

Aries menunjuk Citra dengan tangan kirinya. “Gua nggak peduli kalian semua!” Tangan kanannya menggenggam palu itu lebih erat. “Buka pintunya sekarang!”

Citra menatapnya. “Tadi Anda bilang Anda pemimpin di sini.”

Aries tertawa pendek. “Nggak usah sok peduli. Kebaikan yang lu pamerin di medsos juga cuma pencitraan.”

Ruangan terasa menyempit. Uap di udara menggantung di antara mereka, membuat jarak beberapa meter itu terasa jauh sekaligus berbahaya.

Mereka saling tatap. Lama. Palu di tangan Aries terangkat sedikit.

Citra mencatat sudut pergelangan tangan itu, tinggi ayunan yang mungkin—refleks lama yang muncul tanpa ia undang.

Rasmi mengelap keringat di dahinya.

Citra dan Aries masih saling tatap.

Aries berdecak, lalu melangkah mendekati Citra, sementara Helen tetap berdiri di tempat semula.

Aries memutar palu di tangannya. “Gua pecahin juga kepala lu!”

Citra tidak mundur.

“Kak,” kata Rasmi. Tangannya terangkat, menunjuk ke satu arah.

Citra menoleh,  melihat Setyo dan Harto sedang mengangkat tubuh Darwin. Gerakan mereka terkoordinasi, tanpa kata.

Setyo melirik Aries sekilas, lalu menatap Harto. “Karena yang dia punya cuma palu,” katanya pelan, “semuanya dia perlakukan seperti paku.”

Setyo berdehem. “Tapi Anda berbeda. Lebih kuat. Lebih layak.”

Lihat selengkapnya