Permainan Mematikan: Narsistik

Komandala Putra
Chapter #13

Bab 13: Peti

Citra melangkah masuk dan refleks memperlambat gerakannya.

Ia mendongak. Langit-langitnya tinggi, rangka besi tua masih terlihat di atas, sama seperti ruangan sebelumnya. Bekas pabrik.

Ruangan ini tidak seluas ruangan kedua, tapi lebih luas dari yang pertama. Cahayanya lembut dan menyebar rata—tidak menyilaukan, tapi juga tidak menyisakan sudut gelap.

Citra menarik napas dalam—mencium bau logam tua.

Di dinding atas pintu, tepat di atas ambang yang baru mereka lewati, tertera satu huruf besar: B.

Citra menebar pandangannya ke sekitar.

Hampir semua benda di ruangan ini tertutup kain. Benda-benda besar dengan sudut kaku. Beberapa gundukan tak beraturan.

Kain-kain itu menjuntai sampai hampir menyentuh lantai, seolah sengaja dibiarkan agar bentuk di bawahnya tetap samar.

Tidak ada satu pun kain yang terlipat asal. Semuanya terlihat diletakkan dengan jarak dan tinggi yang hampir seragam, tanpa saling bersentuhan.

Citra menangkap potongan percakapan saat mereka masuk—suara Aries yang keras dan suara Helen yang lebih rendah.

Suara itu berhenti serentak ketika mereka melangkah lebih jauh ke dalam ruangan.

Di tengah ruangan, ada sebuah peti baja berwarna hitam tanpa kain penutup.

Bentuknya persegi panjang. Ukurannya kira-kira sebesar meja kerja—cukup tinggi untuk menutup sebagian paha orang dewasa.

Permukaannya tampak bersih, tanpa debu—ada bekas goresan halus di beberapa sisi. Di bagian atasnya terpasang pita—merah, mengilap—seperti kado ulang tahun yang salah tempat.

Beberapa langkah dari peti itu, Aries dan Helen berdiri berdampingan.

Palu Aries sempat terangkat—tapi beberapa detik kemudian, keduanya sama-sama mundur beberapa langkah dari peti.

Begitu Citra mendekat, Helen menoleh lebih dulu.

“Kita nungguin kalian buat buka peti ini bareng-bareng,” kata Helen sambil tersenyum. Nada suaranya ringan, bahkan terlalu santai.

Helen melirik Aries sekilas.

Lihat selengkapnya