Di depannya, Citra melihat sesosok tubuh duduk, seluruhnya tertutup kain. Kain itu menjuntai sampai hampir menyentuh lantai, tidak bergerak meski udara di ruangan terasa mengalir pelan.
Ia berdiri terlalu dekat untuk merasa nyaman, tapi terlalu jauh untuk memastikan apa yang ada di balik kain itu.
Bau kain baru bercampur logam tipis masuk ke hidung Citra. Aromanya terlalu segar untuk bangunan tua sebesar ini—seolah ruangan ini baru disentuh, bukan lama ditinggalkan.
Ia menoleh ke kiri, kanan, lalu belakang. Bibirnya terbuka sedikit, seolah hendak mengeluarkan suara, lalu tertutup kembali.
Harto berada beberapa meter darinya, membuka kain lain. Gerakannya hati-hati. Setiap kali kain terlepas, ia berhenti sejenak—memeriksa, lalu berpindah.
Di sisi berlawanan, Setyo berdiri di depan kain yang belum ia sentuh. Tubuhnya tegak. Tangannya tergantung di sisi tubuh. Ia tidak langsung bergerak.
Dari sudut matanya, Citra menangkap perbedaan itu dengan jelas: satu orang bergerak dan memeriksa, satu lagi diam dan menunggu.
Citra kembali menatap benda tertutup kain di hadapannya, menarik napas dalam-dalam. Cahaya jatuh merata di permukaan kain itu, tanpa bayangan yang bergerak.
Setelah diam sebentar, ia mendekati sosok itu. Langkahnya kecil, perlahan, hampir tidak ada bunyi saat sepatunya menapak lantai. Setiap jarak yang terpotong terasa jelas, seolah lantai menghitungnya satu per satu.
Tidak ada bunyi lain selain napasnya sendiri yang terdengar begitu jelas di telinganya.
Tangan Citra terjulur ke arah kain—lalu terhenti mendadak, jari-jarinya kaku.
Citra tiba-tiba menoleh ke belakang—tidak ada siapa-siapa, hanya benda-benda yang sebagian masih tertutup kain; sebagian sudah terbuka. Ia mengernyitkan dahi.
Citra kembali menghadap sosok di balik kain. Beberapa detik kemudian, tangannya perlahan-lahan menyentuh kain itu—permukaan keras menyentuh ujung jarinya.
Ia menariknya sedikit demi sedikit. Keringat menetes dari dahinya. Kain itu bergeser senti demi senti, namun bagian wajahnya masih tertutup.
Saat kain hampir terbuka semua, sosok itu ternyata manekin wanita berpakaian dokter. Citra pun menghembuskan napas panjang.
Ia menarik kain hingga wajah manekin itu terlihat: matanya melotot dan bibirnya membentuk seringai yang terlalu lebar.