Ia telah melihat semuanya, bahkan sebelum semuanya dimulai.
Di hamparan tanpa batas yang tidak mengenal waktu, Sang Arsitek mengamati jalannya lapisan ujian dunia yang dibangun bukan untuk ditinggali, melainkan untuk memperlihatkan siapa yang benar-benar layak kembali. Sebuah permainan senda gurau, yang bisa memberikan efek fatamorgana, yang bisa menyilaukan setiap jiwa yang memandang, dan mengubur kesadaran.
Di antara jutaan jiwa dari golongan Virel, ada satu yang dipilih yang hatinya cukup jernih untuk membawa arah bagi yang lain.
Namun sesuatu telah terjadi.
Sebelum kesadarannya bertumbuh, sebelum ingatannya sempat menyentuh kebenaran, sebuah gangguan telah disisipkan. Golongan Noctra yang pernah gagal dalam ujian yang sama, tidak tinggal diam. Beberapa dari mereka yang memiliki wujud virel, masuk kedalam permainan yang sama. Untuk menghalangi virel kembali pulang, dan menarik mereka ke jurang kegelapan yang sama dengan golongan Noctra.
Mereka mulai menyusun strategi, untuk menghalangi virel menyadari permainan ini. Diawali dengan sesuatu yang tampak sederhana, mereka menyusupkan sebuah chip kegelapan ke dalam permen, lalu memberikannya pada seorang anak yang mereka yakini telah direncanakan untuk menjadi sang guidelight.
Sebuah inti yang tidak menghancurkan secara langsung, tapi memperlambat kesadaran seorang guidelight yang sudah dipersiapkan oleh sang Divine untuk memperingatkan tentang permainan simulasi pada golongan virel yang tersilaukan fatamorgana.
Sang Divine tidak menghentikannya, tidak juga menghapusnya. Karena di dalam permainan ini, golongan noctra memang sudah di izinkan untuk mengaburkan kesadaran kaum virel, sebagai kompensasi keadilan, karena golongan noctra sudah terlebih dahulu terjebak dalam mesin penyiksa.
Namun untuk yang satu ini, jalannya tidak boleh terhalang. Maka Ia memanggil salah satu dari Lumina bernama "Zayril".
“Turunlah,” suara itu tidak menggema, namun terasa di seluruh keberadaan.
“Jaga apa yang harus tetap terjaga.”