Permainan Simulasi : Tanpa Ingatan

Princess Cindy
Chapter #2

#2 Luka yang membentuk

Langit sore tampak redup ketika Fidiya berjalan perlahan di antara deretan makam yang sunyi. Di sampingnya, Kaivan kecil menggenggam ujung pakaian ibunya erat-erat sambil berjalan dengan langkah pendek. Kala itu usianya baru enam tahun, matanya masih dipenuhi rasa penasaran terhadap dunia yang belum benar-benar ia pahami.

Seorang pengawal pria berjalan beberapa langkah di belakang mereka dalam diam, menjaga Fidiya dan Kaivan seperti biasa.

“Ibu…” Kaivan mendongak pelan. “Ayah beneran tinggal di sini?”

Langkah Fidiya melambat sesaat. Ia menoleh kecil pada putranya, lalu tersenyum lembut sambil mengusap kepala Kaivan.

“Iya,” jawabnya lirih. “Ayah lagi istirahat panjang.”

Kaivan tampak berpikir beberapa detik sebelum kembali bertanya dengan polos.

“Kalau Kaivan panggil… ayah bisa dengar?”

Dada Fidiya terasa sesak mendengar pertanyaan itu. Namun ia tetap mempertahankan senyumnya meski matanya mulai berkaca.

“InsyaAllah dengar.”

Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah makam sederhana di bawah pohon besar.

Makam Haidar. Fidiya perlahan berjongkok di depan nisan itu, jemarinya menyentuh batu makam pelan, seolah sedang menyapa seseorang yang sangat ia rindukan.

Kaivan ikut jongkok di samping ibunya. Ia memandangi makam itu cukup lama dengan wajah bingung.

"Kita doain ayah ya nak!" Fidiya mencoba tersenyum kecil sambil mengelus kepala anaknya pelan. Namun kepalanya mendadak terasa berat, pandangan di depannya mulai berkunang-kunang, napasnya terasa sesak.

Ia refleks memegang pelipisnya pelan.

Pengawal yang sejak tadi berdiri di belakang langsung menyadari perubahan wajahnya.

“Nyonya?”

Fidiya mencoba berdiri perlahan.

“Aku… tidak apa-apa…”

Namun tubuhnya terasa semakin lemas, kakinya goyah hingga hampir kehilangan keseimbangan.

Kaivan langsung memegang tangan ibunya panik.

“Ibu?”

Dan beberapa detik kemudian....

Lihat selengkapnya