Kehilangan datang lebih cepat dari yang seharusnya. Kaivan baru berusia enam tahun saat satu-satunya pelukan yang ia kenal menghilang.... Fidiya ibunya.
Tidak ada perpisahan panjang, tidak ada penjelasan yang bisa dimengerti oleh anak seusianya. Yang tersisa hanya sunyi dan ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi. Sejak itu, dunia terasa sedikit lebih dingin. Ia diasuh oleh kakek dan pamannya, dua sosok yang menggantikannya dengan kasih yang sederhana, tapi tulus. Dibawah asuhan mereka, Kaivan belajar kembali berdiri, meski tanpa pernah benar-benar melupakan.
Namun waktu tidak memberi jeda. Dua tahun kemudian, kehilangan kembali mengetuk. Tuan Eldramir kakeknya menyusul pergi, meninggalkan Kaivan sekali lagi pada sunyi yang sama. Kaivan berdiri diam di sudut ruangan, matanya tak lepas dari tumpukan tanah yang baru saja menutupi jasad kakeknya.
Langkah pelan mendekat. Zarven berjongkok di hadapannya.
“Kaivan…” suaranya lembut, tapi tegas menahan luka.
Kaivan tidak menjawab. Bibirnya bergetar, matanya mulai basah.
“Paman…” suaranya pecah, “kenapa semua pergi?”
Zarven terdiam sejenak. Ia tahu, tidak ada jawaban yang benar-benar bisa menghapus rasa itu. Ia mengulurkan tangan, menggenggam bahu kecil Kaivan.
“Kakekmu tidak benar-benar pergi,” ujarnya pelan.
“Dia hanya… pulang lebih dulu.”
Air mata Kaivan jatuh tanpa bisa ditahan. Zarven menariknya ke dalam pelukan.
“Dan kamu tidak sendiri,” bisiknya.
“Aku di sini.”
Kaivan mencengkeram pakaian Zarven, seolah takut kehilangan lagi.
“Semua hilang satu per satu…”