Di suatu pekan, Zarven membawa Kaivan dalam ekspedisi dagang menuju wilayah utara. Di sebuah tempat persinggahan, mereka bertemu dengan Eldran, seorang pengamat tua yang hidup menyendiri dan mendalami kitab-kitab kuno tentang takdir manusia.
Saat melihat Kaivan, Eldran seolah melihat sesuatu yang membahayakan sekaligus agung. Ia menarik Zarven ke sudut yang sunyi.
"Siapa anak ini?" tanya Eldran dengan suara bergetar.
"Keponakanku. Kenapa kau menatapnya seperti itu?"
"Bawa dia pulang," bisik Eldran tajam. "Jangan biarkan dia menginjakkan kaki di kota-kota besar di utara. Ada tanda di wajahnya yang sangat langka. Jika para tetua kegelapan atau orang-orang yang menyimpan kebencian di hati mereka menyadari siapa dia, mereka akan menghancurkannya sebelum dia sempat tumbuh. Dia membawa ancaman bagi cara hidup mereka yang curang."
Zarven tertegun. Ia tidak mengerti apa maksud "tanda" itu, tapi ia melihat kesungguhan yang mengerikan di mata Eldran. Tanpa menunggu pagi, Zarven segera memanggil dua pengawalnya.
"Bawa Kaivan kembali ke rumah sekarang juga," perintah Zarven tegas.
"Tapi Paman, bagaimana dengan perjalanan ini?" tanya Kaivan bingung.
"Ini demi keselamatanmu. Ada hal-hal yang tidak bisa kujelaskan sekarang. Pergilah, aku akan menyelesaikan urusan di sini dan segera menyusul."
Zarven tetap tinggal untuk menyelesaikan perdagangan, sementara Kaivan dikawal pulang melewati jalur yang aman. Zarven tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun terhadap nyawa keponakannya.
Waktu berlalu begitu cepat, Kaivan kini telah tumbuh menjadi seorang laki-laki remaja berusia 15 tahun. Sifat tenang, bijaksana, dan rajin yang telah melekat dalam dirinya sejak kecil, tidak pernah menghilang, dan bahkan dia tumbuh menjadi lebih baik lagi, dan dicintai banyak orang.