Langit Distrik Timur membara, bukan oleh matahari, melainkan oleh pijaran amunisi. Suara dengingan Photic Stinger membelah udara, diikuti ledakan Luminous Bolts yang menghantam dinding-dinding beton. Di tengah hujan cahaya yang mematikan itu, Zarven berteriak parau.
"Tahan posisi! Kita butuh pengisian daya!"
Di saat prajurit lain merunduk ketakutan, seorang remaja bergerak dengan kelincahan yang mustahil. Kaivan. Ia berlari rendah, jemarinya yang tenang memunguti tabung-tabung energi musuh yang berserakan, panas, tidak stabil, dan siap meledak.
"Kaivan, merunduk!" Zarven menjerit.
Kaivan tidak berhenti. Ia menjatuhkan tumpukan tabung itu ke hadapan pamannya. Wajahnya tidak berkeringat karena takut, matanya jernih seolah badai laser di sekelilingnya hanyalah gangguan kecil.
"Ini daya yang mereka buang, Paman. Gunakan untuk melindungi kita," ucap Kaivan datar. Ketenangannya di tengah maut itu terasa "asing", sebuah anomali yang membuat orang-orang di sekitarnya terdiam sesaat.
Suatu sore, di pinggiran distrik, Kaivan berdiri mematung. Ia melihat sekelompok Virel sedang menimbun tanah di sebuah lubang kecil. Isak tangis bayi yang baru lahir tiba-tiba bungkam tertimbun tanah. Dan semua bayi itu jenis kelaminnya perempuan.