Permainan Simulasi : Tanpa Ingatan

Princess Cindy
Chapter #5

#5 Sabotase Noctra

Gudang mulai lengang saat cahaya senja meredup di balik dinding beton Distrik Timur. Kaivan masih berdiri di antara peti-peti muatan, memastikan setiap kunci terpasang sempurna, seolah tidak ada satu pun celah yang boleh terlewat.

Di saat itulah, dua pria mendekat. Penampilan mereka biasa, terlalu biasa, namun ada sesuatu dalam cara mereka bergerak, tenang dan terukur, seakan setiap langkah telah dirancang. “Kaivan,” sapa salah satu dari mereka dengan senyum tipis, “kamu masih bekerja saat semua orang sudah selesai?” Kaivan menoleh singkat. “Masih ada yang perlu dipastikan.” Pria itu tertawa pelan, lalu menepuk bahu Kaivan, sentuhan yang tampak wajar, namun di baliknya merambat gelombang tak kasat mata. Radiasi gelap menyelinap halus, menyentuh lapisan bawah sadar, mencari celah kecil dalam rasa lelah dan keinginan untuk sekadar berhenti sejenak.

“Kami akan ke klub malam,” ujar pria kedua, kini ikut mendekat. “Hanya musik. Tidak lebih. Kamu perlu melepaskan diri dari semua ini sejenak.” Sentuhan berikutnya terjadi lebih lama, lebih dalam. Di lapisan yang tak terlihat, frekuensi Noctra mulai bekerja, bukan memaksa namun melemahkan.

“Menyusullah nanti kalau kau sudah selesai,” ujar pria terakhir, menatap Kaivan sedikit lebih lama sebelum mereka berbalik pergi. Langkah mereka menghilang di ujung lorong, namun jejak yang mereka tinggalkan tidak sepenuhnya ikut pergi. Kaivan kembali pada pekerjaannya, namun untuk pertama kalinya, tangannya berhenti sejenak. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan dorongan yang jelas, hanya bisikan halus, seolah pikirannya sedang diarahkan tanpa ia sadari.

Setelah semua selesai, Kaivan melangkah keluar dari gudang, sendirian. Langkahnya tetap tenang, namun kali ini tanpa tujuan yang sepenuhnya ia pahami. Ia berjalan menuju Distrik Malam.

Di lapisan yang lebih tinggi, pergerakan itu tidak luput dari pengamatan. “Frekuensi Noctra terdeteksi,” ujar satu cahaya. Zayriel menatap ke bawah, tenang namun tajam. Tanpa ragu, ia mengangkat tangannya, menaburkan butiran cahaya halus yang jatuh menembus lapisan simulasi.

Langkah Kaivan mulai melambat. Suara kota menjauh. Kepalanya terasa berat, ia berhenti di pinggir jalan, sebelum cahaya Distrik Malam benar-benar menyambutnya. Napasnya perlahan, matanya terpejam, dan tubuhnya bersandar sebelum akhirnya jatuh dalam tidur yang dalam. Malam itu, rencana Noctra gagal, bukan karena Kaivan lebih kuat, tapi karena ada jalur yang tidak diizinkan untuk dibelokkan.

Di sudut gelap Distrik Malam, jauh dari jangkauan cahaya yang riuh, dua sosok itu kembali berkumpul. Wajah mereka masih menyisakan senyum tipis yang tidak lahir dari kegembiraan, melainkan keyakinan.

“Dia merasakannya,” ujar salah satu dari mereka pelan. “Sentuhan itu cukup. Aku bisa melihat celahnya terbuka.”

“Tidak perlu dipaksa,” sahut yang lain, menyandarkan tubuhnya pada dinding logam yang dingin. “Kaivan bukan tipe yang bisa ditarik dengan kasar. Tapi rasa penasaran… itu lebih dalam dari dorongan apa pun.”

“Dan klub malam akan menyambutnya dengan sempurna.” Mereka saling berpandangan.

“Semua sudah disiapkan,” lanjutnya. “Minuman itu sudah dimodifikasi. Tidak langsung merusak, tapi cukup untuk melemahkan sistem kesadaran. Sekali ia mencicipi, ia akan merasa ringan, bebas, seolah semua beban hilang.”

“Lalu ia akan kembali,” potong yang pertama.

“Dan setiap kali kembali, kendalinya akan berkurang sedikit demi sedikit.”

“Pada akhirnya,” bisik yang kedua, “Sistem kesadarannya akan rusak, dan dia tidak akan lagi membedakan mana kehendaknya, dan mana yang kita tanamkan.”

Hening sejenak.

Lalu suara itu kembali, lebih dalam.

“Guidelight?” ia tersenyum tipis.

“Tidak akan pernah lahir dari sistem yang sudah terkontaminasi.”

Mereka menatap ke arah lorong masuk Distrik Malam, tempat cahaya berkilau dan suara musik memanggil tanpa henti.

“Dia akan datang,” ujar salah satu dari mereka dengan penuh keyakinan.

“Semua yang mereka jaga pada akhirnya tetap memiliki celah.”

Lihat selengkapnya