Pagi itu cahaya menyelinap masuk ke celah-celah gudang, namun bagi Kaivan, dunia masih diliputi bayangan dari apa yang ia alami semalam. Ucapan itu terus berputar di benaknya dan tidak bisa diabaikan.
“Datangi tempat di mana kita pertama kali bertemu.”
Ia mencoba kembali pada rutinitasnya, namun setiap langkah terasa kosong. Setiap pekerjaan yang biasanya ia lakukan, kini seperti berjalan tanpa jiwa. Ada sesuatu yang memanggilnya, bukan dari luar, tapi dari dalam.
Kaivan akhirnya berhenti, dan menatap jauh ke arah luar gudang, seolah tahu bahwa ia tidak bisa menunda ini lebih lama lagi.
Zarven sedang merapikan peralatan saat Kaivan mendekat.
“Paman,” ucapnya pelan.
Zarven menoleh, langsung menangkap sesuatu yang berbeda dari tatapan keponakannya. “Ada yang ingin kau katakan?”
“Aku ingin pergi sebentar,” jawab Kaivan. “Ke desa ibu… aku ingin berziarah.”
Zarven terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Pergilah. Paman akan mengambil alih sementara semua pekerjaanmu.”
Kaivan membalas dengan anggukan hormat. “Terima kasih banyak, Paman.”
Langkah demi langkah membawa Kaivan menjauh dari hiruk pikuk distrik, menuju tempat yang jauh lebih tenang, desa kecil yang pernah menjadi awal segalanya.
Ia berdiri di hadapan pusara sederhana itu. Tidak ada kemewahan, hanya tanah dan kenangan.
Kaivan berlutut perlahan.
“Bu…” suaranya lirih, hampir tak terdengar.
“Aku belum tahu apakah ini benar… atau hanya perasaanku saja.”
Angin berhembus lembut, menyapu permukaan tanah.
“Aku hanya merasa… ada sesuatu yang harus aku selesaikan.”
Ia menunduk lebih dalam.
“Jika ini memang jalanku, semoga aku tidak tersesat."
Kaivan mengangkat wajahnya, menatap langit sejenak, lalu berdiri. Dan langkahnya berlanjut menuju sebuah goa sunyi, tersembunyi di balik lereng batu yang jarang dijamah siapa pun. Tempat di mana semuanya pernah dimulai.
Langkahnya berhenti di depan mulut goa. Kaivan menarik napas dalam, lalu melangkah masuk. Dan untuk pertama kalinya ia tidak datang sebagai anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, tapi sebagai seseorang yang sedang mencari kebenaran.
Kaivan mulai melangkah masuk, tidak ada apa pun selain gelap yang menyambutnya. Di balik bayangan batu, sesuatu berpendar pelan. Garis-garis cahaya tipis mulai membentuk pola, bergetar, menyatu, lalu menjelma menjadi sebuah pintu holografik yang melayang tepat di hadapannya. Transparan… namun terasa nyata.
Kaivan melangkah maju. Saat ujung jarinya menyentuh permukaan cahaya itu, seketika seluruh ruang bergetar. Dunia di sekitarnya terlipat. Dan dalam satu tarikan napas, Kaivan sudah tidak lagi berada di dalam goa, tapi di ruang yang tak bisa ia pahami.
Namun tiba-tiba cahaya yang sangat terang muncul, menyilaukan seluruh pandangannya. Bukan cahaya biasa… tapi seperti sumber dari segala cahaya itu sendiri.
Dari balik pijaran itu, sebuah sosok melangkah keluar.
Zayriel.
“Aku sudah lama menunggumu.”
Suara itu menggema, namun terasa dekat.
Kaivan menatapnya lekat. Kali ini tidak ada keraguan di matanya.
“Jadi…” ucapnya perlahan, “seperti apa yang ingin kamu ceritakan?”
Zayriel tersenyum tipis.
“Duduklah.”
Tanpa bertanya lebih jauh, Kaivan mengikuti. Ia duduk di atas permukaan yang tak terlihat namun terasa kokoh, seolah ruang itu sendiri menopangnya.
Zayriel mendekat, lalu menepuk bahunya dengan ringan. Dalam sekejap segalanya berubah. Tubuh Kaivan terasa ringan… lalu hilang.
Ia seperti ditarik, meluncur cepat menembus lapisan demi lapisan realitas. Cahaya-cahaya melesat di sekelilingnya, suara menghilang, waktu terasa terdistorsi.
Ia… terbang. Lebih tinggi. Lebih jauh. Hingga akhirnya....
BRAK!!
Kesadarannya “jatuh” ke dalam sesuatu. Kaivan tersentak. Napasnya berat.
Matanya terbuka perlahan… dan yang ia lihat bukan lagi dunia yang ia kenal. Langit berbeda. Udara terasa asing. Dan tubuhnya bukan seperti yang biasa ia rasakan. Ia mencoba bergerak, namun terasa terikat. Ada sesuatu di kepalanya.
Sebuah perangkat game VR, helm simulasi yang menempel erat, dengan serat-serat cahaya yang terhubung dari dalamnya ke seluruh tubuhnya.
Kaivan membeku, dan tangannya perlahan terangkat menyentuh helm itu. Dia terdiam dengan napasnya yang masih belum stabil. Perlahan ia bangkit, dan matanya menyapu sekeliling.
Hamparan luas terbentang di hadapannya, bukan seperti dunia yang ia kenal. Di sana, berbaring berjajar tubuh-tubuh dalam jumlah tak terhitung. Semuanya diam. Tidak bergerak. Tertidur.
Dan di kepala mereka terpasang perangkat yang sama. Helm game VR. Cahaya tipis mengalir dari setiap perangkat itu.

“Tempat apa ini…?” suara Kaivan terdengar lirih, belum sepenuhnya sadar. Tangannya masih meraba-raba kepalanya sendiri, memastikan apa yang ia sentuh benar-benar nyata.
Zayriel berdiri di sampingnya.
“Kamu boleh lepas dulu perangkatnya,” ujarnya tenang.
“Kita berkeliling.”
Kaivan ragu sejenak, lalu perlahan melepas helm itu dari kepalanya.
Saat perangkat itu terlepas, sebuah sensasi aneh menjalar di seluruh tubuhnya.
Lebih ringan.
Lebih… sadar.
Mereka mulai berjalan.
Langkah Kaivan masih hati-hati, matanya terus mengamati setiap detail di sekitarnya.
“Ini adalah duniamu yang sesungguhnya,” ucap Zayriel pelan.
Ia kemudian menunduk sedikit.
Kaivan mengikuti arah pandangnya.
Dan saat ia melihat ke bawah, tubuhnya langsung menegang. Di bawah sana… terbentang sebuah dunia. Sangat kecil namun begitu jelas, seperti miniatur kehidupan yang selama ini ia kenal.
Tali-tali hologram menjulur dari setiap tubuh yang tertidur di atas, menghubungkan mereka ke sosok-sosok kecil di dunia bawah.
Kaivan sedikit bergoyang, refleks menyeimbangkan tubuhnya.
"Hngh—!" Napasnya tercekat.
