Kaivan berdiri di tengah ruangan yang tak berbatas, diselimuti cahaya lembut yang menembus dari segala arah. Ruangan itu terasa hidup, seakan bernafas bersamanya, namun sekaligus sunyi dan agung. Di depannya, sebuah monitor raksasa muncul dari cahaya, memancarkan kilatan sejarah yang belum pernah ia saksikan, tapi terasa akrab, seperti memanggil ingatannya yang terkubur.
Sang Divine berdiri di samping layar itu, tubuhnya memancarkan aura yang membuat dada Kaivan terasa sesak, tidak takut, tapi penuh kekaguman.
“Kau pasti bingung,” suara Sang Divine bergema, lembut namun menggetarkan,
“karena seluruh ingatanmu tentang Aeternum belum pulih. Namun Aku akan menyampaikannya kembali… agar kau bisa meneruskan pengetahuan ini kepada golongan Virel di dunia simulasi.”
Layar berkedip, menampilkan sosok-sosok bercahaya, melayang di ruang tak berbatas.
“Awalnya,” lanjut Sang Divine, “Aku menciptakan Lumina, golongan yang tidak pernah membangkang. Mereka diprogram untuk selalu patuh. Namun mereka tidak memiliki akal, tidak memiliki cinta, dan tidak memiliki rasa iba. Kesetiaan mereka hanyalah hasil program.”
Kilatan cahaya menyorot Lumina bergerak rapi, disiplin, serentak, tanpa emosi. Mereka agung, tapi kosong dari kesadaran sejati.
“Lalu Aku menyempurnakan ciptaan-Ku,” suara Sang Divine terdengar lebih berat,
“dengan menghadirkan Noctra, makhluk yang memiliki akal, mampu berpikir, dan memilih. Untuk mereka, Aku membuat ujian. Sama seperti permainan simulasi yang kau kenal. Bedanya, mereka kala itu mengingat Aeternum.”
Layar menampilkan Noctra yang saling bersaing, bergerak cepat, haus akan kekuasaan. Sebagian dari mereka menganggap diri mereka paling cerdas, dan haus ambisi membuat mereka saling menyingkirkan tanpa belas kasih, nyaris menghancurkan dunia mereka sendiri.
“Sebagian besar dari mereka lupa batas,” lanjut Sang Divine, “hingga Aku harus menurunkan pasukan Lumina untuk menertibkan mereka. Agar mereka menyadari bahwa mereka bukan yang terkuat.”
Lalu layar menyorot satu sosok bayi kecil, terbaring di antara reruntuhan kekacauan.
“Ada satu bayi tersisa…” suara Sang Divine terdengar penuh arti.
“Dan Aku memerintahkan Lumina untuk merawatnya, membesarkannya, hingga kecerdasannya cukup untuk memimpin golongan Lumina. Namanya… Azelion.”
Kilatan cahaya menyorot Azelion tumbuh, matanya bersinar dengan kepintaran dan keberanian. Namun Sang Divine menambahkan, suaranya berat:
“Di dalam hatinya… Aku melihat benih kegelapan. Chip sisa Noctra masih mengalir di dirinya. Dia merasa terkuat, dan Noctra lain yang berada di bawah pengawasannya tidak ragu menyombongkan diri, memperlihatkan kekuatan mereka.”
Layar menampilkan pertarungan internal antara Noctra dan Lumina, ego dan ambisi yang meledak, namun Azelion tetap berdiri teguh di tengahnya. Cahaya di sekelilingnya bergetar, menandakan keseimbangan antara akal dan hati yang sedang ia bentuk.
“Dan saat itu… Aku menghadirkan golongan Virel,” suara Sang Divine semakin lembut, tapi penuh wibawa.
Layar berkedip, menyorot cahaya baru yang bersih, seimbang, dan siap menjalani ujian yang sama. Dunia terasa berhenti sejenak, seakan seluruh semesta menahan napas.
Kaivan menatap layar raksasa di depannya. Kilatan cahaya menampilkan sebuah aula megah di Aeternum, dikelilingi oleh ribuan sosok bercahaya, Lumina yang tertib, Noctra yang penuh ambisi, dan kini… golongan Virel yang baru muncul.
Sang Divine berdiri di tengah, tubuhnya bersinar lembut namun penuh wibawa. “Aku telah menyempurnakan ciptaanku dalam golongan Virel,” suaranya bergema, tenang tapi menembus ruang, “dan kelak mereka akan masuk ke permainan simulasi, untuk menyempurnakan sistem dalam diri mereka yang masih proses pengembangan. Mereka yang akan memimpin Aeternum.”
Layar memfokuskan pada sosok yang tegap, bercahaya, dan memancarkan aura pemimpin. “Perkenalkan, dia Virel pertama bernama Adriel.”
Semua sosok di aula itu menundukkan kepala memberi hormat. Kecuali satu.