Di sisi lain, kegelapan Aeternum, memantulkan kilatan data dari dunia simulasi yang terus bergerak tanpa henti.
Azelion berdiri tegak di hadapan bawahannya, sorot matanya tajam saat menerima laporan.
“Kaivan… telah memasuki Aeternum,” ucap salah satu Noctra dengan kepala tertunduk.
“Ia sedang menjalani peningkatan sistem sebagai Guidelight.”
Hening sejenak.
Cahaya di sekeliling Azelion meredup, seolah merespons perubahan suasana yang tak terlihat.
“Jadi dia sudah sampai sejauh itu…” gumamnya pelan. Tanpa membuang waktu, dia bergegas turun ke dunia simulasi.
Kembali ke keheningan Aeternum yang agung, Kaivan berdiri di hadapan Sang Divine yang pancaran cahayanya terasa semakin meneduhkan. Meski pikirannya baru saja dijejali oleh memori purba tentang pengkhianatan Azelion, satu pertanyaan mendasar masih mengganjal di hatinya sebuah konsep yang sering ia dengar di dunia bawah, namun kini terasa memiliki bobot yang berbeda.
“Aku mengerti bahwa kunci untuk memenangkan permainan ini adalah kesadaran,” ucap Kaivan, suaranya menggema lembut di ruang tanpa batas. “Tetapi, mengapa level tertingginya harus 'Cinta Tanpa Syarat'?”
Sang Divine terdiam sejenak, membuat pendar cahaya di sekeliling mereka berdenyut pelan seirama dengan detak jantung Kaivan. “Kaivan, apakah kau mencintai ibumu?” tanya-Nya tiba-tiba.
“Tentu saja,” jawab Kaivan tanpa ragu. “Sangat mencintainya. Dialah yang membawaku ke dunia simulasi itu, yang melindungiku saat aku masih lemah.”
“Jika demikian, apakah kau akan mengikuti segala permintaannya?”
Kaivan mengangguk pasti. “Tentu, Tuan Divine. Aku tahu Ibuku mencintaiku. Apa pun yang ia perintahkan, aku yakin itu demi kebaikanku. Aku melakukannya bukan karena beban, tapi karena aku ingin menyenangkannya.”