Permainan Simulasi : Tanpa Ingatan

Princess Cindy
Chapter #9

#9 The Codex (Buku panduan permainan)

Cahaya di ruang tanpa batas itu perlahan meredup. Kaivan berdiri dalam diam.

Di hadapannya, Sang Divine tetap berdiri dengan wibawa yang tak berubah. Namun kali ini, sorot-Nya terasa lebih lembut.

“Prosesnya telah selesai,” suara-Nya bergema, tenang namun penuh arti.

Kaivan menunduk perlahan.

“Lalu… apa yang harus aku lakukan saat kembali?”

Sang Divine tidak langsung menjawab.bSebaliknya, cahaya di samping-Nya berkumpul perlahan, membentuk sesuatu.

Sebuah buku transparan.

Tidak besar, namun memancarkan kilau lembut yang terasa hidup. Permukaannya seperti tersusun dari cahaya yang bergerak, seolah menyimpan sesuatu yang terus berubah di dalamnya.

“Ini,” ujar Sang Divine, “adalah Codex, buku pengetahuan untuk mendampingimu.”

Buku itu melayang perlahan ke arah Kaivan.nIa menerimanya dengan hati-hati. Begitu jemarinya menyentuh permukaan buku itu, ada getaran halus yang merambat ke seluruh tubuhnya, hangat, namun dalam. Seketika wujudnya menghilang, seolah tersedot oleh tangan Kaivan

“Di dalamnya,” lanjut Sang Divine, “terdapat aturan permainan. Segala yang ingin kau temukan jawabannya… akan kau temukan di sana.”

Kaivan menatap buku itu.

“Apakah aku bisa membukanya kapan saja?”

Sang Divine menatapnya dalam.

“Tidak.”

Jawaban itu sederhana.

Namun berat.

“Buku ini hanya akan merespons… pada hati yang tenang.”

Kaivan terdiam.

“Sedikit saja penyakit hati muncul,” suara Sang Divine menjadi lebih dalam, “entah itu kesombongan yang tak kau sadari, amarah yang kau benarkan, atau emosi gelap sekecil apa pun…”

Cahaya di sekitar buku itu berdenyut pelan.

“…maka ia akan tertutup.”

Kaivan menggenggamnya sedikit lebih erat.

“Dan tidak akan bisa diakses… sampai kau benar-benar kembali tenang. Dan hanya kamu yang bisa melihat wujudnya.”

Hening.

Kata-kata itu tidak terasa seperti peringatan. Lebih seperti hukum.

“Namun ingat,” lanjut Sang Divine, “jawaban tidak selalu datang sesuai keinginanmu.”

Tatapan-Nya menjadi lebih dalam.

“Kadang… ia datang saat kau sudah siap menerimanya.”

Kaivan menarik napas pelan.

Ia menunduk, menggenggam buku itu dengan lebih mantap.

“Aku mengerti.”

Sang Divine tersenyum tipis.

“Sekarang… kembalilah.”

Cahaya di sekeliling Kaivan mulai berubah.

Ruang itu terasa seperti menjauh atau mungkin ia yang ditarik kembali.

Sebelum semuanya benar-benar memudar, suara Sang Divine kembali terdengar, lebih lembut dari sebelumnya.

“Jaga kesadaranmu, Kaivan.”

“Karena di sanalah… seluruh akhir permainan ini ditentukan.”

Langkah Kaivan perlahan menjauh dari Sang Divine. Ia menunduk hormat untuk terakhir kalinya. Tidak ada kata yang perlu diucapkan, karena semuanya sudah dipahami.

Zayriel berdiri di sampingnya, sayap putihnya memantulkan cahaya lembut yang memenuhi ruang Aeternum.

“Waktunya kembali,” ucapnya tenang.

Kaivan mengangguk.

Mereka mulai berjalan.

Namun belum jauh langkah itu berlanjut, Kaivan tiba-tiba berhenti.

Di hadapannya…

berdiri sesuatu yang membuat napasnya tertahan. Sebuah pohon yang terlalu besar untuk dipahami.

Batangnya menjulang tinggi, kokoh, dengan akar-akar raksasa yang menghujam jauh ke dalam kehampaan, seolah mencengkeram fondasi seluruh Aeternum.

Daun-daunnya lebar, membentang seperti telinga gajah, berlapis-lapis hingga menutupi sebagian langit. Setiap helainya memantulkan cahaya dengan cara yang berbeda, seperti memiliki kehidupan sendiri.

Buah-buahnya menggantung, bulat besar, seukuran tempayan, berat namun tetap melayang ringan, berpendar lembut seperti menyimpan sesuatu di dalamnya.

Kaivan melangkah mendekat, tanpa sadar. Dan saat cahaya menyentuh pohon itu, warnanya berubah.

Bukan sekadar indah…

melainkan warna-warna yang tidak pernah ada dalam dunia mana pun yang pernah ia kenal. Seolah spektrum itu tidak pernah diciptakan untuk dilihat… kecuali di sini.

Matanya terpaku.

“Ini…” suaranya pelan, hampir seperti bisikan, “apa?”

Zayriel tersenyum tipis.

Namun tidak langsung menjawab.

Kaivan menunduk sedikit, lalu teringat codex yang baru diberi Sang Divine.

“Bolehkah aku mencoba… membuka Codex?” tanyanya.

“Aku ingin bertanya… tentang pohon itu.”

Zayriel menatapnya, lalu mengangguk. “Silakan.”

Kaivan menarik napas pelan. Ia menutup mata sejenak, menenangkan dirinya. Mengosongkan pikiran. Menyingkirkan segala getaran kecil yang tersisa di dalam hatinya.

“Codex… bisa bantu aku menjawab satu pertanyaan?”

Perlahan… Hologram berbentuk persegi itu kembali muncul di hadapannya, berdenyut pelan.

“Apa yang ingin kamu ketahui sekarang?” Terdengar suara dari arah hologram itu.

Kaivan membuka matanya, menatap pohon raksasa di hadapannya.

“Jelaskan padaku… pohon apa ini?”

Cahaya dalam sistem itu bergetar pelan.

Seolah sedang mengakses sesuatu yang sangat dalam. Lalu suara itu kembali terdengar lebih berat.

“Pohon ini… bernama Terminus Lumina.”

Hening sesaat.

“Secara harfiah, ia berarti… Pohon Cahaya di Batas Akhir.”

Cahaya di sekitar pohon itu berdenyut lembut, seakan merespons penyebutan namanya.

“Ini adalah pohon bidara raksasa… Aliran air yang ada disekitarnya, mengalir langsung menuju sungai arelion dan sungai elyra, pohon ini menandai batas tertinggi dari alam yang dapat dijangkau oleh makhluk ciptaan. Tidak ada yang dapat melampauinya… kecuali atas izin Sang Divine.”

Lihat selengkapnya