Permainan Simulasi : Tanpa Ingatan

Princess Cindy
Chapter #10

#10 Cermin kehidupan

Pagi itu Kaivan kembali menjalani rutinitasnya di dunia simulasi. Jalanan kota mulai ramai oleh kendaraan dan suara para pedagang yang membuka lapak mereka satu per satu. Dari luar, semuanya tampak normal.

Namun sejak kembali dari Aeternum, ada sesuatu dalam diri Kaivan yang terasa berbeda.

Ia menjadi lebih tenang, dan lebih banyak memperhatikan hal-hal kecil di sekitarnya.

Dan entah kenapa, dadanya terasa lebih ringan setiap kali melihat orang lain tersenyum.

Kaivan baru saja keluar dari sebuah toko kecil setelah membeli beberapa kebutuhan sederhana. Di tangannya hanya tersisa sedikit uang untuk bertahan beberapa hari ke depan. Saat sedang berjalan menyusuri trotoar, langkahnya perlahan terhenti. Di depan sebuah gang sempit, seorang pria paruh baya tampak berdiri dengan wajah panik. Pakaiannya lusuh, matanya sembab seperti seseorang yang sudah menangis semalaman.

“Tolong… bantu saya untuk pinjam dulu…” suaranya bergetar saat mencoba meminta bantuan pada orang-orang yang lewat. “Anak saya harus segera dibawa ke rumah sakit…”

Namun satu per satu orang hanya menggeleng.

Sebagian pergi tanpa benar-benar mendengarkan.

Pria itu mulai menunduk lemas sambil memegang kepalanya sendiri.

“Kalau hari ini gak segera ditangani…” suaranya semakin lirih, “katanya bisa fatal…”

Kaivan memperhatikan pria itu beberapa saat dalam diam, lalu perlahan ia melangkah mendekat.

“Pak.” Pria itu langsung mengangkat wajahnya cepat.

Kaivan membuka dompetnya pelan, tatapannya sempat jatuh pada sisa uang yang ia miliki, yang bahkan mungkin tidak cukup jika nanti ia sendiri membutuhkan sesuatu secara mendadak.

Namun tanpa ragu, ia mengambil seluruh uang itu dan menyerahkannya pada pria tersebut, pria itu pun langsung membelalak kaget.

“Ini… Pakai saja!” ucap Kaivan tenang.

“Tapi… ini banyak sekali…” pria itu terlihat bingung sekaligus tidak percaya.

Kaivan hanya tersenyum kecil.

“Anak bapak lebih membutuhkannya sekarang.”

Mata pria itu mulai berkaca-kaca.

“Tapi bagaimana dengan kamu?”

Kaivan terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab pelan, “Saya percaya… saya tidak akan kekurangan hanya karena membantu orang lain.”

Pria itu akhirnya menerima uang tersebut dengan tangan gemetar.

“Terima kasih… terima kasih banyak…”

Kaivan hanya mengangguk kecil sebelum kembali melanjutkan langkahnya.

Kaivan masih berjalan menyusuri jalan kota ketika tiba-tiba seseorang berlari tergesa ke arahnya.

“Kaivan!” Ia langsung menoleh.

Salah satu sepupunya tampak terengah-engah sambil menunjuk ke arah ujung jalan dengan wajah panik.

“Ada budak yang lagi disiksa majikannya!”

Kening Kaivan langsung berkerut. “Di mana?”

“Di belakang pasar!”

Belum sempat kalimat itu selesai, Kaivan sudah lebih dulu berlari menuju tempat yang dimaksud.

Semakin mendekat, suara keributan mulai terdengar jelas. Beberapa orang tampak berdiri mengelilingi sebuah halaman sempit, namun tidak ada satu pun yang benar-benar berani menghentikan apa yang sedang terjadi.

Di tengah kerumunan itu, seorang pria bertubuh besar sedang menarik rantai besi sambil memukul seorang budak laki-laki yang tubuhnya sudah dipenuhi luka lebam.

“Dasar tidak berguna!” bentaknya kasar.

Cambuk kembali menghantam punggung lelaki itu hingga tubuhnya tersungkur ke tanah.

Kaivan langsung melangkah maju.

“Berhenti!” Suasana mendadak hening.

Sang majikan menoleh dengan wajah kesal, sementara Kaivan berdiri tepat di depan budak itu, menahan napas saat melihat kondisi tubuhnya yang penuh luka.

“Apa pun kesalahannya, kau tidak berhak menyiksanya seperti ini.”

Pria itu malah tertawa sinis.

Lihat selengkapnya