Permainan Simulasi : Tanpa Ingatan

Princess Cindy
Chapter #11

#11 Cahaya yang dinanti

Sore itu suasana gudang kecil milik Kaivan terlihat lebih sibuk dari biasanya. Beberapa pekerja hilir mudik memindahkan kotak-kotak barang ke kendaraan pengiriman, sementara suara roda kayu dan percakapan para pekerja saling bercampur memenuhi udara.

Di tengah kesibukan itu, Kaivan justru tampak berbeda.

Ia berdiri diam di dekat meja pencatatan barang sambil memeriksa daftar pengiriman, namun tatapannya terlihat kosong. Beberapa kali ia bahkan tidak sadar menuliskan angka yang salah hingga salah satu pekerja harus mengingatkannya.

“Kaivan, ini tujuan pengirimannya beda.”

Kaivan tersadar dan langsung mengusap wajahnya pelan.

“Ah… maaf.”

Pekerja itu hanya mengangguk kecil sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.

Tak jauh dari sana, Shafia yang baru datang untuk memastikan barang distribusinya ikut memperhatikan Kaivan dalam diam.

Belakangan ini lelaki itu memang terlihat sering melamun.

Kadang menatap langit terlalu lama.

Kadang mendadak diam di tengah percakapan.

Dan beberapa kali terlihat seperti memikirkan sesuatu yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.

Padahal biasanya Kaivan adalah orang yang paling tenang dalam mengatur semuanya.

Shafia melangkah mendekat perlahan.

“Barang untuk wilayah utara udah siap dikirim?” tanyanya pelan sambil meletakkan catatan pesanan di atas meja.

Kaivan mengangguk singkat.

“Udah.”

Namun jawabannya terdengar kosong.

Shafia memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya duduk di kursi kayu dekat meja tersebut.

“Kamu lagi banyak pikiran ya?”

Kaivan terdiam sesaat.

Tangannya masih sibuk merapikan catatan, meski sebenarnya tidak ada lagi yang perlu dibereskan.

“Enggak kok, cuma emang lagi kurang fokus aja” tanyanya pelan sambil tersenyum tipis.

“Kalau kamu percaya sama aku, kamu bisa cerita segala yang mengganjal di hati, daripada disimpan sendiri.”

Kaivan tertawa kecil, namun terdengar lelah.

Suasana perlahan mulai sepi ketika para pekerja satu per satu keluar untuk mengantar barang. Cahaya senja masuk dari sela pintu gudang yang terbuka, memantulkan warna keemasan samar ke dalam ruangan.

Hening beberapa saat.

Sampai akhirnya Shafia kembali bicara.

“Belakangan ini kamu berubah.”

Kaivan perlahan mengangkat pandangannya.

“Aneh ya?”

“Bukan aneh.” Shafia menggeleng pelan. “Cuma… seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu sendirian.”

Kaivan terdiam.

Tatapannya perlahan jatuh ke arah langit senja di luar gudang.

Lalu tanpa sadar ia berbisik pelan,

“Kalau seseorang mengetahui sesuatu dan diberi tanggung jawab yang besar… tapi bingung harus mulai menjelaskan dari mana… menurutmu apa yang harus dia lakukan?”

Shafia mengernyit kecil mendengar pertanyaan itu.

Sementara Kaivan hanya tersenyum tipis, seolah sadar bahwa kalimatnya terdengar aneh bahkan bagi dirinya sendiri.

Kaivan terdiam beberapa saat setelah mengucapkan kalimat itu.

Gudang mulai semakin sunyi. Para pekerja sudah pergi mengantar barang, menyisakan suara angin sore yang masuk perlahan dari pintu yang masih terbuka.

Shafia tetap duduk di sampingnya tanpa memaksa.

Menunggu.

Kaivan menunduk pelan, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu di dalam pikirannya sendiri.

“Aku takut terdengar gila kalau menceritakan ini,” ucapnya lirih.

Shafia tersenyum kecil.

“Aku belum mutusin mau nganggep kamu gila atau enggak.”

Kaivan tertawa pelan mendengar itu. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, ekspresinya terlihat sedikit lebih ringan.

Namun beberapa detik kemudian, tatapannya kembali berubah serius.

Lihat selengkapnya