Permainan Simulasi : Tanpa Ingatan

Princess Cindy
Chapter #12

#12 Bacalah (The codex)

Malam sudah jauh larut ketika Shafia akhirnya mengantar Kaivan pulang. Jalanan kota Elarion mulai sepi, hanya ditemani cahaya lampu kota dan suara kendaraan yang sesekali melintas di kejauhan. Sebelum pergi, Shafia sempat menatap Kaivan beberapa saat, seolah masih memikirkan semua hal yang baru saja ia dengar dari pamannya.

“Hati-hati ya,” ucap Shafia pelan.

Kaivan tersenyum kecil. “Aku yang harusnya bilang begitu.”

Shafia terkekeh pelan sebelum akhirnya pergi meninggalkan halaman rumah. Kaivan menghela napas panjang lalu berjalan masuk menuju kamarnya dengan tubuh lelah, sementara pikirannya justru semakin penuh.

Namun baru saja pintu kamarnya terbuka

“Tumben pulang malam.”

Kaivan langsung tersentak sampai hampir menjatuhkan ponselnya sendiri.

“Ya Tuhan!”

Di atas lemari dekat jendela, Zayriel duduk santai sambil melipat kedua tangannya, sayap bercahayanya bergerak perlahan memenuhi kamar dengan cahaya samar kebiruan.

Kaivan memegang dadanya kesal. “Kau tahu? Kebiasaan muncul tiba-tiba itu bisa membuat jantungku berhenti berfungsi.”

Zayriel justru terlihat menahan tawa. “Kalau begitu berarti kesadaranmu masih terlalu lambat menangkap keberadaanku.”

“Atau kau memang sengaja bikin orang kaget. Kau mau aku berpindah dunia sebelum menyelesaikan misi?”

Zayriel hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya turun perlahan dari atas lemari.

“Aku hanya penasaran,” ujarnya tenang. “Kapan kamu akan mulai memberitahukan rules permainan ini pada pemain lain?”

Kaivan terdiam sesaat sebelum menjatuhkan tubuhnya ke kursi meja belajarnya.

“Aku masih bingung harus mulai dari mana,” gumamnya pelan. “Semua ini terlalu besar. Bahkan aku sendiri masih terus mencoba memahami semuanya.”

Zayriel menatap Kaivan beberapa saat sebelum berkata,

“Mungkin kamu bisa mulai belajar memahami rules nya sendiri terlebih dahulu. Karena ada beberapa hal yang tanpa sadar membuat kesadaran manusia semakin tumpul."

Ia berjalan mendekat perlahan.

“Setelah itu… mulailah dari satu atau dua orang terdekat terlebih dahulu. Orang-orang yang kemungkinan besar akan mendengarkanmu. Karena meskipun kamu dikenal sebagai Sang Validated, kerasnya hati seseorang tetap bisa membuatnya menolak kebenaran yang ada tepat di depan matanya.”

Suasana kamar kembali hening.

Hanya suara pendingin ruangan dan angin malam yang terdengar samar dari luar jendela.

Dan malam itu, Kaivan mulai menyadari bahwa tugas terberat seorang Guidelight bukanlah menemukan jawaban. Melainkan membuat manusia mau membuka matanya sendiri.

Kaivan menarik napas panjang sebelum akhirnya mengangkat tangannya perlahan. Cahaya kebiruan mulai muncul di udara kamarnya, membentuk lembaran-lembaran hologram transparan yang melayang di hadapannya. Simbol-simbol asing bergerak seperti aliran data hidup, memancarkan cahaya lembut yang hanya bisa dilihat oleh dirinya dan mereka yang memiliki tingkat kesadaran tertentu.

The Codex kembali terbuka.

Kaivan mulai menelusuri satu per satu bagian yang tersusun rapi di dalam sistem itu. Semakin ia membaca, semakin ekspresinya berubah bingung.

“Banyak sekali…” gumamnya pelan.

Matanya terus bergerak membaca daftar demi daftar yang muncul di udara.

Lihat selengkapnya