Permainan Simulasi : Tanpa Ingatan

Princess Cindy
Chapter #13

#13 Awal menjalankan misi

Pagi itu, Kaivan berjalan melewati lorong pertokoan distrik timur Elarion sambil membawa tas kecil di pundaknya. Pikirannya masih dipenuhi berbagai isi The Codex yang semalam ia baca hingga hampir tertidur di depan hologram bercahaya itu.

Saat tiba di tempat distribusi milik Shafia, gadis itu sedang sibuk memeriksa beberapa daftar pengiriman barang. Rambutnya diikat sederhana, sementara beberapa kotak kecil tersusun rapi di meja.

Kaivan menghampirinya sambil menarik kursi di depan meja.

“Aku baru buka beberapa rules larangan dalam permainan,” ucapnya pelan. “Kamu mau tahu juga nggak?”

Shafia langsung mengangkat kepala dengan mata berbinar penasaran.

“Boleh.” Ia tersenyum kecil sambil menepuk kursi di sampingnya. “Sini duduk. Aku bawa camilan juga biar sambil makan.”

Kaivan terkekeh kecil sebelum akhirnya duduk di dekatnya. Shafia kemudian mengeluarkan beberapa roti hangat dan minuman dingin dari tas kain kecil miliknya.

Namun ekspresi Kaivan justru terlihat serius.

“Larangan dalam permainan ternyata banyak sekali,” gumamnya sambil membuka tablet hologram kecil dari The Codex yang hanya tampak samar di matanya. “Aku sampai bingung sendiri.”

Shafia mulai mendengarkan dengan serius.

“Kebanyakan bahkan hal-hal yang dianggap sepele oleh manusia, padahal… jangankan yang kecil seperti ini, hal besar yang jelas-jelas nggak pakai nurani saja masih banyak dilakukan orang.”

Shafia mengangguk pelan.

“Memangnya apa saja?”

Kaivan mulai membaca beberapa bagian.

“Gak boleh makan babi... Fitnah… iri hati… kesombongan… berlebihan mengikuti hasrat… mempermainkan perasaan orang… bahkan cara manusia memandang orang lain juga ternyata berpengaruh terhadap kesadaran mereka.”

Shafia tampak berpikir.

“Kalau dipikir-pikir…memang semua itu perlahan mengubah cara seseorang berpikir dan memperlakukan orang lain.”

Kaivan mengangguk cepat.

“Nah itu! Semalam The Codex juga menjelaskan kalau banyak manusia nggak sadar bahwa kebiasaan kecil bisa membentuk kondisi jiwa mereka sendiri. Tapi semua rules larangan ini juga pinya penjelasan secara biologis juga, jadi kalau difikir secara nalar, memang masuk akal juga.”

Percakapan mereka terus berlanjut tanpa sadar.

Sementara itu, dari arah lorong belakang bangunan, seorang remaja laki-laki berjalan membawa kotak bekal makan siang.

Rafi.

Putra dari pamannya Kaivan, Zavren.

Awalnya ia hanya ingin mengantarkan titipan makanan untuk Kaivan sebelum kembali membantu ayahnya bekerja. Namun langkahnya perlahan terhenti saat mendengar percakapan keduanya.

“Kesadaran manusia…?”

Rafi mengernyit bingung.

Ia berdiri diam di balik dinding lorong sambil mendengarkan samar-samar pembicaraan mereka.

“The Codex…?”

Matanya mulai membesar pelan.

Dan tanpa Kaivan sadari, untuk pertama kalinya, ada orang lain yang mulai mendengar sedikit tentang rahasia permainan simulasi itu.

Rafi akhirnya memberanikan diri melangkah mendekat. Kotak bekal makan siang masih berada di tangannya, sementara wajahnya terlihat penuh kebingungan.

Lihat selengkapnya