Cerita ini lahir dari sebuah pertanyaan sederhana: apa yang terjadi ketika keadilan yang seharusnya melindungi semua orang justru menjadi permainan yang hanya dinikmati oleh mereka yang mampu membayar harganya? Pertanyaan itu terus mengganggu saya setiap kali membaca berita tentang kecelakaan kerja yang berakhir dengan permintaan maaf singkat, tentang bencana yang disebut "di luar kendali manusia" padahal tanda-tandanya sudah ada berminggu-minggu sebelumnya, tentang nama-nama korban yang hanya disebut sekali di media lalu menghilang, sementara nama-nama yang bertanggung jawab tetap muncul di sampul majalah bisnis tahun berikutnya, seolah tak terjadi apa-apa.
Permainan Tujuh Nyawa bukan sekadar kisah tentang bertahan hidup dalam sebuah permainan maut. Ia adalah cermin — sengaja dibuat retak, sengaja dibuat menyakitkan untuk dipandang — untuk memantulkan bagaimana kelas sosial, kekuasaan, dan kesenjangan sering kali menentukan siapa yang selamat dan siapa yang dikorbankan, bahkan jauh sebelum permainan apa pun dimulai, bahkan sebelum pintu ruangan itu terkunci untuk pertama kalinya.
Ada tujuh tokoh dalam cerita ini, dan tujuh dosa yang mereka bawa masuk ke dalam ruangan itu. Ada yang dosanya lahir dari keserakahan dan rasa aman yang berlebihan karena kekuasaan; ada yang dosanya lahir dari rasa takut kehilangan pekerjaan, dari ketakutan yang begitu manusiawi hingga sulit untuk sepenuhnya disalahkan; ada pula yang dosanya lahir dari cinta yang keliru arah — cinta kepada seorang ibu, seorang anak, yang membuat mereka rela mengorbankan kebenaran demi menyelamatkan satu nyawa yang paling dekat dengan mereka. Jika pembaca menyelami lebih dalam, akan terasa bahwa dosa-dosa itu tidak sepenuhnya milik mereka sendiri secara utuh — melainkan produk dari sistem yang membesarkan mereka, memberi mereka pilihan-pilihan yang sempit dan getir, lalu diam-diam mengambil untung dari pilihan yang sama yang kelak akan dihukumnya.
Saya tidak menulis cerita ini untuk membenarkan apa yang mereka lakukan. Tujuh nyawa yang hilang di lereng tambang itu — dan keluarga yang mereka tinggalkan — tidak akan pernah kembali hanya karena tujuh orang lain kini harus mempertaruhkan nyawa mereka sendiri di ruangan tertutup, di bawah aturan permainan yang dibuat oleh seseorang yang juga menyimpan luka dan dendamnya sendiri. Saya menulis ini karena ingin mengajak pembaca duduk sejenak dengan pertanyaan yang lebih sulit: seandainya Anda berada di posisi mereka, dengan tekanan yang sama, dengan pilihan yang sama sempitnya, dengan seseorang yang Anda cintai sedang menunggu di rumah — apakah Anda benar-benar yakin akan memilih jalan yang berbeda?
Selamat membaca, dan selamat mempertanyakan: jika Anda menerima panggilan itu malam ini, dan di layar ponsel Anda muncul wajah orang yang paling Anda cintai, tanpa tahu apakah mereka aman atau tidak — apakah Anda akan datang?