Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #2

PROLOG

Pukul 23.47.

Di sebuah apartemen di lantai dua puluh tiga, layar ponsel menyala sendiri.

Tidak ada notifikasi pesan. Tidak ada nama kontak. Hanya sebuah panggilan video masuk, dari nomor yang terdiri dari angka-angka acak, seolah dibuat untuk sekali pakai dan dibuang setelahnya.

Ia menatap layar itu lama sebelum akhirnya jarinya menyentuh tombol merah — menolak.

Panggilan terputus.

Lima detik kemudian, panggilan yang sama muncul kembali. Nomor berbeda. Wajah layar yang sama.

Ia menolak lagi.

Lima detik.

Panggilan ketiga.

Kali ini, jantungnya berdegup lebih kencang dari yang ia mau akui. Ada sesuatu yang salah — bukan hanya soal panggilan yang tak mau berhenti, tapi soal ketepatan waktunya. Lima detik. Selalu lima detik. Seolah seseorang, atau sesuatu, sedang menghitung, menunggu, tahu persis kapan ia akan menyerah dan mengangkatnya.

Pada panggilan kelima, ia mengangkat.

Layar tidak menampilkan wajah manusia. Yang muncul adalah gambar — bergerak, nyata, direkam saat itu juga — seseorang yang sangat ia kenal, berjalan sendirian menyusuri trotoar yang basah bekas hujan sore tadi, tanpa curiga sedang diawasi.

Lihat selengkapnya