BAB 1 — BHIRAWA
Lantai lima puluh dua gedung menara kaca itu selalu sunyi setelah pukul sepuluh malam. Hanya ada dengung pelan pendingin ruangan, cahaya kota yang berkedip jauh di bawah sana seperti taburan bara yang tak pernah padam, dan Bhirawa Adinata Prakoso yang masih duduk di kursi kulitnya, menandatangani salinan terakhir laporan tahunan perusahaannya satu per satu, halaman demi halaman, dengan pena yang sama yang ia pakai sejak sepuluh tahun lalu—pena hadiah dari ayahnya, pendiri pertama kerajaan bisnis yang kini ia pimpin dengan tangan besi yang selalu ia bungkus dengan senyum ramah di depan publik.
Ia sudah terbiasa dengan kesunyian semacam ini. Kesunyian orang yang telah mencapai puncak dan tak lagi perlu takut pada apa pun—tak pada pesaing, tak pada regulator yang bisa dijinakkan dengan cara-cara yang sudah ia kuasai bertahun-tahun, tak pada wartawan yang sesekali mencoba menggali sesuatu yang lebih dalam dari yang seharusnya mereka ketahui, sebelum akhirnya menyerah atau dibuat menyerah. Ia membalik halaman berikutnya, membaca sekilas angka laba bersih tahun ini—angka yang akan membuat para pemegang saham tersenyum lebar di rapat umum minggu depan, angka yang lebih besar dari tahun sebelumnya, meski ia tahu betul dari mana sebagian penghematan biaya operasional itu berasal, dari pos anggaran mana yang dipangkas demi angka yang lebih indah di atas kertas.
Di luar jendela besar ruang kerjanya, kota terbentang seperti permadani cahaya yang tak pernah benar-benar tidur. Ia memandanginya sesekali, mengingatkan dirinya sendiri bahwa semua yang ia lihat—gedung-gedung itu, jalan tol yang masih ramai meski larut, bahkan sungai kecil yang mengalir jauh di antara pemukiman padat—ada dalam genggamannya, entah langsung atau tidak langsung, lewat izin yang ia miliki, lewat proyek yang ia danai, lewat kebijakan yang ia dorong lewat orang-orang yang duduk di kursi kekuasaan.
Ponselnya menyala sendiri di atas meja kaca, memantulkan cahaya ke langit-langit ruangan.
Ia tidak langsung mengangkat. Orang seperti dirinya tidak diburu-buru oleh siapa pun—itu prinsip yang sudah ia pegang sejak perusahaan tambang batu baranya menjelma dari usaha rintisan keluarga menjadi salah satu grup pertambangan terbesar di negeri ini. Ia menekan tombol merah tanpa melihat siapa yang menelepon, kembali ke laporan di tangannya, menandatangani halaman berikutnya dengan tenang.
Lima detik kemudian, panggilan itu kembali. Nomor berbeda.
Ia mendecih pelan, menekan tombol merah lagi, mulai merasa terganggu—perasaan yang jarang sekali ia izinkan muncul di wajahnya, bahkan ketika sendirian, bahkan di ruangan yang hanya disaksikan oleh dinding kaca dan lampu kota di kejauhan.
Lima detik.
Panggilan ketiga muncul, nomor lain lagi, deretan angka acak yang tak pernah ia kenali, tak mengikuti pola kode area mana pun yang biasa ia hafal dari klien dan mitra bisnisnya. Kali ini rasa jengkel mulai berubah jadi sesuatu yang tak nyaman untuk diakui—sedikit gelisah, sesuatu yang menjalar pelan di tengkuknya seperti udara dingin yang menyusup dari celah yang tak seharusnya ada. Bhirawa sudah bertahun-tahun terbiasa mengendalikan siapa yang bisa menjangkaunya dan kapan. Nomor pribadinya hanya dipegang segelintir orang: sekretarisnya, pengacaranya, kepala keamanan pribadinya, dan istrinya. Tak ada satu pun dari mereka yang akan meneleponnya berkali-kali tanpa mengirim pesan lebih dulu, tanpa alasan yang jelas dan mendesak.