Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #4

PTN2

BAB 2 — DAMAR


Kontrakan petak berdinding tripleks itu terasa lebih sempit dari biasanya malam ini, meski Damar Aji Nugroho sudah tinggal di sana lebih dari dua tahun sejak pindah dari rumah petak berdinding bata yang dulu ia sewa saat masih bekerja sebagai mandor lapangan di tambang batu bara, sebuah pekerjaan yang dulu ia banggakan setiap kali pulang kampung dan disapa "Pak Mandor" oleh tetangga-tetangganya.

Ia baru saja menidurkan anaknya yang berusia empat tahun, menepuk-nepuk punggung kecil itu pelan sampai napasnya teratur, menyanyikan sepotong lagu daerah yang dulu ibunya nyanyikan untuknya, sebelum akhirnya merebahkan diri sendiri di lantai beralas tikar, tubuhnya remuk setelah delapan belas jam mengemudikan ojek daring tanpa henti sejak subuh—rute demi rute, penumpang demi penumpang, keluhan demi keluhan yang harus ia telan sendiri demi rating aplikasi yang menentukan berapa banyak orderan akan masuk esok hari, sebuah sistem baru yang tak pernah ia pahami betul cara kerjanya, tapi yang kini menentukan apakah anaknya bisa makan cukup atau tidak.

Kehidupan ini jauh berbeda dari tiga tahun lalu, saat gaji bulanannya sebagai mandor cukup untuk menyewa rumah yang lebih layak, cukup untuk membeli susu formula tanpa harus menghitung ulang berkali-kali di kepala sebelum ke kasir, cukup untuk merasa bahwa hidupnya, meski keras, setidaknya punya arah yang jelas, punya masa depan yang bisa ia rencanakan bersama Ratih, istrinya, yang dulu selalu bilang mereka akan punya rumah sendiri suatu hari nanti.

Semua itu berakhir malam longsor itu. Perusahaan menutup operasi tambang tempatnya bekerja tak lama setelah kejadian, bukan karena penyesalan, tapi karena tekanan sementara dari opini publik yang segera reda begitu media beralih ke berita lain. Ia, sebagai mandor lapangan yang hadir malam itu, dianggap "terlalu dekat dengan insiden" untuk dipertahankan di proyek lain milik perusahaan yang sama, meski tak pernah ada satu pun yang secara terang-terangan menyalahkannya. Ia dipecat dengan pesangon seadanya, cukup untuk bertahan tiga bulan sebelum akhirnya ia mendaftar jadi pengemudi ojek daring, pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan akan ia jalani seumur hidup.

Ponsel murahnya bergetar di atas meja plastik dekat dipan, mengejutkannya dari lamunan yang sudah terlalu sering datang belakangan ini, terutama di malam-malam ketika tubuhnya terlalu lelah untuk melawan pikiran yang datang sendiri.

Ia tidak langsung memeriksanya, mengira itu pesanan dini hari yang sering membuatnya harus bangkit meski tubuhnya menolak keras, meski kakinya masih pegal dari duduk berjam-jam di atas jok motor. Getaran itu berhenti, lalu mulai lagi beberapa detik kemudian, dengan ritme yang sama, terlalu teratur untuk sekadar kebetulan.

Damar mengangkat ponselnya dengan malas, siap menolak orderan apa pun malam ini—tubuhnya sudah tak sanggup lagi, bahkan untuk orderan jarak dekat sekalipun. Yang muncul justru panggilan video dari nomor yang tak pernah ia kenali, bukan format nomor yang biasa muncul dari aplikasi ojek daring.

Lihat selengkapnya