BAB 3 — MARLINA
Ruang kerja dr. Marlina Kusuma di rumah sakit itu selalu menjadi tempat paling sunyi setelah jam sepuluh malam, satu-satunya cahaya selain lampu koridor yang temaram adalah lampu meja yang menyorot tumpukan berkas rekam medis yang harus ia tandatangani sebelum jam dinasnya benar-benar berakhir, sebuah rutinitas yang sudah ia jalani selama bertahun-tahun tanpa pernah benar-benar mengeluh.
Ia sudah bekerja sebagai dokter selama lebih dari lima belas tahun, sebagian besar di antaranya sebagai dokter forensik yang bertugas menentukan sebab kematian, sebuah pekerjaan yang menuntutnya untuk selalu objektif, selalu berpegang pada bukti, tak peduli seberapa menyakitkan kebenaran yang ditemukan, tak peduli siapa yang akan terluka oleh kesimpulan yang tertulis di berkas yang ia tanda tangani—sebuah prinsip yang ia pegang teguh sejak masa pendidikan kedokterannya, sampai suatu malam tiga tahun lalu.
Malam ini, seperti biasa, ia menandatangani berkas demi berkas dengan tangan yang sudah terlatih, pikirannya sebagian melayang ke jadwal kunjungannya ke panti wreda esok lusa—tanggal lima belas, seperti biasa, membawakan bunga anggrek karena itu bunga kesukaan ibunya sejak dulu, sejak sebelum penyakit membuat ibunya harus tinggal di sana, jauh dari rumah yang dulu mereka tinggali bersama, jauh dari kebun kecil yang dulu ibunya rawat dengan penuh kasih sayang setiap pagi.
Ia teringat bagaimana dulu, sebelum sakit itu datang, ibunya selalu bangga menceritakan kepada tetangga bahwa putrinya seorang dokter yang jujur, yang tak pernah mau menerima suap dari siapa pun, bahkan dari keluarga pasien yang mencoba mempercepat antrean dengan amplop kecil. Kebanggaan itu kini terasa seperti duri yang tertancap di dada Marlina setiap kali ia mengingatnya.
Ponselnya menyala di sudut meja, satu-satunya benda yang mengganggu keteraturan malam itu, cahayanya memantul ke tumpukan berkas yang belum sempat ia sentuh.