Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #6

PTN4

BAB 4 — ALYA


Kamar kos sempit Alya Ramadhani hanya berukuran tiga kali empat meter, cukup untuk sebuah dipan lipat, meja kerja kecil, dan tumpukan buku-buku jurnalistik yang sudah lama tak ia sentuh sejak berhenti bekerja di media tempat ia dulu meniti karier dengan penuh idealisme, sejak hari ia memutuskan untuk menjadi jurnalis lepas yang lebih "fleksibel", alasan yang selalu ia berikan kepada siapa pun yang bertanya kenapa ia berhenti dari media besar yang dulu begitu ia banggakan.

Malam itu ia sedang menatap layar laptopnya, mencoba menyelesaikan artikel lepas tentang resep masakan rumahan untuk sebuah portal gaya hidup—jauh sekali dari jenis liputan investigasi yang dulu ia impikan sebagai jurnalis muda, dari mimpi menjadi seseorang yang suaranya bisa mengubah sesuatu, membongkar sesuatu yang salah, membela mereka yang tak punya suara sendiri, mimpi yang dulu membuatnya rela bekerja lembur tanpa dibayar demi satu liputan yang ia yakini penting.

Di dinding kamarnya, tergantung sebuah pigura kecil berisi penghargaan jurnalistik yang pernah ia terima di awal kariernya, penghargaan yang kini lebih terasa seperti ejekan setiap kali matanya tak sengaja menatapnya saat bekerja hingga larut malam.

Ponselnya bergetar di atas meja kos yang sempit, memantulkan cahaya biru ke dinding kamar yang lembap, ke pigura kecil itu, membuat kacanya berkilau sesaat.

Ia menoleh dengan malas, mengira itu editor lepasnya yang sering menghubunginya malam-malam soal revisi artikel resep yang harus selesai sebelum tenggat besok pagi, lalu tegang seketika melihat panggilan video dari nomor tak dikenal muncul untuk ketiga kalinya dalam semenit terakhir, dengan nomor yang selalu berbeda setiap kali, sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya bahkan dari nomor spam paling agresif sekalipun.

Lihat selengkapnya