Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #7

PTN5

BAB 5 — WULAN


Apartemen kecil Sri Wulandari—yang selalu dipanggil Wulan oleh rekan-rekan kerjanya di kantor manajemen sumber daya manusia perusahaan tempatnya bekerja sekarang, jauh dari perusahaan tambang tempatnya dulu mengabdi selama hampir enam tahun—terasa hangat malam itu, dipenuhi aroma masakan sederhana yang baru saja selesai ia siapkan untuk makan malam bersama suaminya, sup ayam kesukaan mereka berdua yang selalu ia masak setiap kali salah satu dari mereka merasa lelah setelah hari yang panjang.

"Kerjaan lagi?" suaminya bertanya sambil tersenyum maklum, sudah terbiasa dengan kesibukan istrinya yang kadang harus menjawab pesan kantor bahkan di jam makan malam, sebuah kebiasaan yang sudah mereka terima sebagai bagian dari kehidupan rumah tangga mereka, ketika ponsel Wulan bergetar di sebelah piringnya yang masih setengah penuh.

"Sebentar," Wulan menjawab, mengangkat ponselnya, menekan tombol merah pada panggilan dari nomor tak dikenal tanpa berpikir panjang, kembali melanjutkan obrolan ringan tentang rencana akhir pekan mereka, tentang rencana mengantar Bunga ke rumah neneknya hari Minggu.

Panggilan itu kembali lima detik kemudian. Lalu lagi. Dan lagi, dengan nomor yang selalu berbeda, membuat suara notifikasi itu terdengar semakin mengganggu di tengah suasana makan malam yang tadinya tenang.

Suaminya mengangkat alis, meletakkan sendoknya. "Nomor siapa itu, sampai gigih begitu? Bukan penagih utang, kan?" ia bercanda, meski ada sedikit nada khawatir yang tersirat.

"Entahlah," Wulan menjawab, mencoba tertawa kecil untuk menutupi ketidaknyamanan yang mulai menjalar, terutama saat menyadari pola lima detik yang terlalu presisi untuk sekadar panggilan spam biasa, terlalu teratur, seolah ada seseorang yang sengaja mengatur ritmenya dengan alat pengukur waktu.

Lihat selengkapnya