Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #8

PTN6

BAB 6 — HENDRA


Rumah dinas Hendra Wibisono selalu terasa lebih besar dari yang sebenarnya ia butuhkan—enam kamar, dua ruang tamu, dan sebuah kolam kecil di halaman belakang yang jarang sekali digunakan—hadiah tak resmi dari posisi yang ia duduki sebagai kepala bidang perizinan di dinas yang mengurus tambang dan sumber daya alam di provinsi itu, posisi yang dulu ia perjuangkan dengan susah payah, dan yang belakangan ia pertahankan dengan cara yang jauh lebih mudah namun jauh lebih kotor.

Ia masih ingat betul bagaimana dulu, di awal kariernya sebagai pegawai negeri, ia begitu idealis, menolak setiap tawaran "uang terima kasih" dari pemohon izin yang ingin mempercepat prosesnya. Rekan-rekan seangkatannya bahkan sempat menjulukinya "yang paling kaku", sebuah predikat yang dulu ia banggakan diam-diam. Namun waktu, dan tekanan ekonomi keluarga yang semakin berat setelah kelahiran Nadia, perlahan mengikis batas yang dulu ia jaga begitu ketat, satu amplop kecil pada satu waktu, hingga akhirnya batas itu benar-benar hilang tanpa ia sadari kapan persisnya.

Malam itu ia sedang duduk di ruang kerja pribadinya, menghitung ulang proposal proyek baru yang akan ia ajukan minggu depan—proyek tambang lain, di kabupaten lain, dengan perusahaan lain, tapi dengan pola yang sama persis seperti yang sudah ia jalankan bertahun-tahun: mempercepat proses perizinan untuk mereka yang bersedia membayar lebih, menunda atau mempersulit bagi mereka yang tidak.

Di dinding ruang kerjanya tergantung berbagai piagam penghargaan—"Pelayan Publik Teladan", "Kontribusi Terbaik bagi Investasi Daerah"—yang selama bertahun-tahun ia kumpulkan dengan bangga, dipajang rapi seolah menjadi bukti bahwa dirinya adalah birokrat yang berdedikasi. Tak seorang pun yang datang berkunjung ke ruangan itu pernah tahu bahwa di balik setiap penghargaan itu, ada berkas-berkas lain yang tersimpan di laci terkunci, berkas yang jauh lebih jujur tentang bagaimana sebenarnya ia menjalankan jabatannya.

Istrinya sudah tidur, dan anak perempuannya yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar, Nadia, sedang menginap di rumah neneknya malam itu untuk merayakan ulang tahun sepupunya besok pagi—sebuah kebetulan yang biasanya membuat Hendra lega karena rumah jadi lebih tenang untuk bekerja, tapi malam ini justru akan menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan.

Ponselnya bergetar di atas meja kerja, di samping tumpukan berkas perizinan yang belum sempat ia rapikan.

Ia mengangkat panggilan pertama tanpa curiga, mengira itu dari salah satu koleganya di dinas yang sering menghubunginya larut malam untuk membahas "detail teknis" yang sebenarnya adalah kode untuk negosiasi jumlah komisi.

Ia teringat pertemuannya dengan perwakilan PT Cahaya Bumi Perkasa tiga tahun lalu, di sebuah restoran mahal di pusat kota, tempat amplop tebal itu diserahkan di bawah meja tanpa sepatah kata pun tentang isinya, hanya senyum dan jabat tangan yang seolah menyegel sebuah kesepakatan tak tertulis. Ia tak pernah bertemu langsung dengan Bhirawa Adinata Prakoso, hanya berurusan dengan orang-orang kepercayaannya, tapi nama itu selalu muncul di setiap dokumen yang melewati mejanya.

Panggilan itu terputus sendiri sebelum sempat tersambung sepenuhnya, sebuah gangguan teknis yang ia anggap biasa. Ia meletakkan ponselnya kembali, melanjutkan pekerjaannya.

Lima detik kemudian, panggilan itu kembali, nomor berbeda.

Ia mengangkat alis, menekan tombol merah, mulai merasa terganggu oleh kegigihan nomor asing itu.

Lihat selengkapnya