BAB 7 — SLAMET
Rumah kepala desa itu berdiri paling megah di antara rumah-rumah lain di desa yang terletak tak jauh dari bekas area tambang, dengan cat baru, pagar besi kokoh, dan sebuah motor keluaran terbaru terparkir di halamannya—kontras mencolok dengan rumah-rumah tetangga yang masih beratap seng tua dan berdinding anyaman bambu, sesuatu yang selalu membuat sebagian warga bertanya-tanya dalam hati, meski tak seorang pun berani menanyakannya langsung kepada Pak Slamet Riyadi.
Dulu, sebelum menjabat sebagai kepala desa, rumah keluarga Slamet tak jauh berbeda dari rumah-rumah lain di sekitarnya—sederhana, beratap seng, dengan halaman tanah yang becek setiap musim hujan. Perubahan itu datang perlahan-lahan setelah ia terpilih untuk periode pertama, dimulai dari renovasi kecil yang wajar bagi seorang pejabat desa, hingga akhirnya menjelma menjadi rumah yang kini berdiri paling mencolok di seluruh desa, sebuah transformasi yang tak pernah benar-benar dipertanyakan warga karena mereka terlalu sibuk dengan kehidupan mereka sendiri untuk menaruh curiga pada orang yang mereka percaya.
Malam itu, Slamet sedang duduk di teras rumahnya, ditemani secangkir kopi dan radio kecil yang menyiarkan berita larut malam, pikirannya melayang ke rapat desa besok pagi yang akan membahas alokasi dana pembangunan tahun ini—rapat yang sudah ia siapkan dengan angka-angka yang, seperti biasa, tak sepenuhnya mencerminkan kenyataan yang akan sampai ke tangan warga.
Ia sudah menjabat sebagai kepala desa selama tiga periode berturut-turut, dipilih kembali setiap kali dengan suara yang meyakinkan, sebagian besar karena warga percaya pada citra yang ia bangun dengan cermat—kepala desa yang murah senyum, yang selalu hadir di setiap hajatan, yang selalu punya kata-kata baik untuk siapa pun yang ia temui di jalan. Tak seorang pun yang mengira bahwa di balik senyum itu, ada perhitungan yang jauh lebih dingin tentang berapa banyak yang bisa ia sisihkan dari setiap dana yang melewati tangannya.
Ponselnya yang sudah agak using bergetar di atas meja bambu di sebelahnya.
Ia mengangkatnya dengan santai, mengira itu dari salah satu perangkat desa yang sering menghubunginya malam-malam soal urusan administrasi. Panggilan itu terputus sebelum tersambung. Ia mengernyit, meletakkan ponselnya, menyeruput kopinya.
Ia teringat hari pencairan dana kompensasi itu, tiga tahun lalu, ketika perwakilan kabupaten datang membawa berkas dan amplop tebal ke balai desa, memintanya untuk "mengoordinasikan" penyalurannya kepada keluarga korban. Tak ada yang secara eksplisit memintanya mengambil bagian, tapi tak ada juga yang benar-benar mengawasi ke mana sebagian besar dana itu mengalir setelah berpindah tangan darinya—sebuah celah yang ia manfaatkan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, hingga menjelma menjadi rumah baru dan tanah atas nama saudara iparnya.
Lima detik kemudian, panggilan itu kembali, nomor lain.
Ia mendecak, mulai merasa terganggu, tapi tetap menekan tombol merah, pikirannya masih terlalu sibuk dengan angka-angka anggaran untuk benar-benar peduli.