BAB 8 — TUJUH ARAH, SATU TUJUAN
Pagi itu, di tujuh sudut kota yang berbeda, tujuh orang bangun dengan cara yang sama—tanpa benar-benar tidur semalaman, mata bengkak, pikiran dipenuhi satu pin lokasi yang sama, satu tenggat waktu yang sama yang kini tersisa kurang dari dua belas jam.
Bagi masing-masing dari mereka, pagi itu terasa aneh dalam keakrabannya—rutinitas biasa yang dijalani dengan cara yang sama sekali tak biasa, seolah tubuh mereka bergerak secara otomatis mengikuti kebiasaan bertahun-tahun sementara pikiran mereka berada di tempat yang jauh berbeda, terus-menerus memutar ulang setiap detail dari panggilan mengerikan semalam, mencoba mencari celah, mencari jalan keluar yang sebenarnya tak pernah benar-benar ada.
Matahari terbit seperti biasa, tak peduli pada tujuh nyawa yang sedang bergulat dengan keputusan paling berat dalam hidup mereka. Kota itu bergerak dengan ritme yang sama seperti hari-hari lain—pedagang membuka warung, anak-anak berangkat sekolah, kendaraan mulai memadati jalan—sama sekali tak menyadari bahwa di antara jutaan orang yang menjalani rutinitas biasa itu, ada tujuh orang yang sedang mempertaruhkan segalanya.
Bhirawa menghabiskan pagi itu di kantornya, meski sudah membatalkan semua jadwal, hanya untuk memastikan tak ada yang mencurigai kepergiannya nanti. Ia sempat menghubungi kepala keamanan pribadinya, tapi mengurungkan niat di detik terakhir, mengingat kembali ancaman yang begitu spesifik tentang apa yang akan terjadi jika ia mencoba jalan pintas. Ia memandangi foto keluarganya yang terpajang di meja kerja—istri dan Kirana, tersenyum di sebuah pantai beberapa tahun lalu—lebih lama dari yang biasa ia lakukan, sebelum akhirnya memerintahkan sopir pribadinya untuk mengantar ke alamat yang sudah ia salin diam-diam ke secarik kertas, bukan lewat ponsel yang ia curigai mungkin sedang dipantau.
Di dalam mobil, ia mencoba menelepon Kirana sekali lagi, hanya untuk mendengar suaranya, memastikan semua baik-baik saja tanpa perlu mengatakan alasan sebenarnya. Putrinya menjawab dengan riang, bercerita tentang tugas kuliahnya, sama sekali tak menyadari bahwa ayahnya sedang menahan tangis di ujung telepon, sesuatu yang tak pernah dilihat siapa pun darinya selama bertahun-tahun. Ia menutup telepon itu dengan tangan gemetar, menyimpan ponselnya di saku dalam jasnya, dekat dengan dadanya, seolah ingin menjaga suara putrinya tetap dekat selama mungkin.
Damar menitipkan anaknya kepada tetangga sebelah kontrakan, berbohong soal orderan jauh ke luar kota yang harus ia ambil, matanya tak berani menatap Ratih terlalu lama saat berpamitan, takut istrinya membaca kebohongan di wajahnya. Ia menyalakan motornya yang sudah tua, menempuh perjalanan lebih dari satu jam menuju alamat yang sudah ia hafal luar kepala sejak semalam, meski tangannya masih terasa dingin memegang setang.