BAB 9 — PINTU YANG SAMA
Bangunan itu dulunya adalah gudang penyimpanan alat berat milik PT Cahaya Bumi Perkasa, perusahaan tambang milik Bhirawa sendiri—sebuah fakta yang belum disadari siapa pun di antara ketujuh orang itu saat mereka satu per satu tiba di depan gerbang besi yang setengah berkarat, ditumbuhi tanaman rambat yang sudah bertahun-tahun tak dipangkas.
Kawasan di sekitarnya begitu sunyi, jauh dari pemukiman terdekat, dikelilingi lahan kosong yang dulunya mungkin menjadi bagian dari area operasional tambang sebelum perusahaan memutuskan memindahkan pusat kegiatannya ke lokasi lain. Angin bertiup pelan membawa debu jalan tanah yang belum diaspal, dan di kejauhan, samar-samar masih bisa terlihat bekas jalur rel kecil yang dulu digunakan untuk mengangkut hasil tambang, kini berkarat dan setengah tertutup rumput liar.
Suasana di sekitar bangunan itu terasa ganjil, seolah waktu berhenti sejak hari perusahaan meninggalkannya—tak ada tanda-tanda aktivitas manusia selain jejak-jejak samar yang mungkin ditinggalkan oleh siapa pun yang mempersiapkan tempat ini untuk kedatangan mereka hari ini, satu-satunya bukti bahwa tempat ini bukan sekadar reruntuhan yang terlupakan begitu saja.
Bhirawa adalah yang pertama tiba, turun dari mobilnya dengan langkah ragu, matanya menyipit menatap bangunan yang entah kenapa terasa familiar, meski ia tak bisa mengingat persis kapan terakhir kali ia mengunjungi tempat semacam ini—salah satu dari puluhan aset perusahaan yang sudah lama tak lagi ia urus secara langsung, diserahkan sepenuhnya kepada manajer-manajer di bawahnya. Ia meminta sopirnya menunggu di kejauhan, sebuah instruksi yang membuat sopirnya kebingungan namun tak berani bertanya lebih jauh.
Damar tiba beberapa menit kemudian, motornya berderit saat berhenti di dekat gerbang, matanya langsung menangkap logo perusahaan yang masih samar terlihat di dinding bangunan, memudar dimakan waktu—logo yang sama yang dulu tercetak di seragam kerjanya, di helm keselamatan yang ia kenakan setiap hari selama bertahun-tahun. Sesuatu dalam dirinya mulai bergejolak, sebuah firasat yang tak bisa ia jelaskan, campuran antara kengerian dan sesuatu yang mendekati déjà vu, seolah tubuhnya mengenali tempat ini jauh sebelum pikirannya sempat memprosesnya.
Ia melepas helm motornya perlahan, tangannya terasa dingin meski udara pagi itu tak terlalu sejuk, matanya tak lepas dari gerbang berkarat itu, mencoba mengingat apakah ia pernah mengunjungi lokasi penyimpanan alat berat semacam ini semasa masih bekerja, tapi ingatannya samar, tertutup kabut trauma yang selama tiga tahun ia coba kubur dalam-dalam.