Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #12

PTN10

BAB 10 — ATURAN MAIN


Di dalam gudang itu, udara terasa lebih dingin dari yang seharusnya, seolah ada pendingin ruangan tersembunyi yang bekerja jauh melampaui kebutuhan bangunan setua ini. Lampu-lampu LED putih terang menyala otomatis begitu mereka melangkah masuk, memperlihatkan sebuah ruangan luas yang sudah dirombak total dari fungsi aslinya sebagai gudang penyimpanan—kini berisi tujuh kursi yang tersusun melingkar, menghadap sebuah layar raksasa di salah satu dinding, dengan lantai beton yang dipoles mengilap dan dinding-dinding yang dilapisi panel logam tanpa satu pun jendela yang bisa menjadi jalan keluar.

Kontras antara bagian luar bangunan yang using dan interiornya yang begitu modern membuat ketujuh orang itu tertegun sejenak begitu melangkah masuk—seolah memasuki dunia lain yang sepenuhnya berbeda dari apa yang mereka bayangkan dari luar, sebuah bukti nyata betapa besar sumber daya dan perencanaan yang dicurahkan untuk mempersiapkan tempat ini, jauh melampaui kemampuan satu orang biasa untuk melakukannya sendirian.

Langkah kaki mereka menggema di ruangan yang sunyi itu, satu-satunya suara selain napas mereka sendiri yang mulai memburu, semakin menyadari bahwa pintu di belakang mereka telah tertutup rapat begitu orang terakhir—Slamet—melangkah masuk, tanpa suara dorongan atau kunci yang bisa mereka dengar, seolah bangunan itu sendiri yang memutuskan kapan harus menutup diri.

Mereka duduk satu per satu di kursi yang sudah diberi label nama masing-masing, tertulis rapi di sandaran kursi—sebuah detail yang membuat bulu kuduk mereka meremang, menyadari betapa lama dan telitinya persiapan di balik semua ini. Bhirawa menatap namanya sendiri terukir di logam dingin sandaran kursi, merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sepanjang kariernya sebagai pengusaha paling berkuasa di kalangannya—perasaan menjadi objek, bukan subjek, dikendalikan bukan mengendalikan.

Layar raksasa di depan mereka menyala, menampilkan siluet seseorang yang duduk di kursi lain, di ruangan lain, wajahnya sepenuhnya gelap tanpa detail yang bisa dikenali, hanya bentuk tubuh yang tak bisa dipastikan gendernya, diam tak bergerak, seolah sudah lama menunggu momen ini dengan kesabaran yang mengerikan.

"Selamat datang," suara itu terdengar, sama seperti yang mereka dengar semalam, kini menggema di ruangan yang jauh lebih luas, terasa jauh lebih mengerikan karena kini didengar bersama-sama, bukan sendirian di kamar masing-masing. "Tujuh orang, tujuh dosa yang tak pernah diadili oleh hukum mana pun, karena kalian semua cukup pintar, cukup berkuasa, atau cukup putus asa untuk menghindarinya."

Ketujuh orang itu saling bertukar pandang, mulai memahami bahwa mereka semua di sini bukan karena kebetulan, melainkan karena benang merah yang sama, meski belum satu pun dari mereka tahu persis apa benang merah itu. Damar merasakan sesuatu yang dingin merambat di tulang belakangnya, matanya beralih ke wajah Bhirawa yang duduk di seberangnya—wajah yang pernah ia lihat di poster-poster kantor tambang, di layar televisi saat perusahaan mengumumkan pencapaian tahunan, wajah yang selama ini hanya ia kenal sebagai atasan tertinggi yang tak pernah benar-benar ia temui langsung.

Lihat selengkapnya