Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #13

PTN11

BAB 11 — LORONG RUNTUH


Satu jam yang dijanjikan itu terasa jauh lebih panjang daripada yang seharusnya, dihabiskan ketujuh orang itu dalam keheningan yang sesekali dipecah oleh pertanyaan-pertanyaan canggung—nama, pekerjaan, alasan mereka bisa berada di ruangan yang sama—jawaban-jawaban yang diberikan dengan hati-hati, seolah setiap kata bisa menjadi senjata yang akan digunakan orang lain melawan mereka nanti.

Ruangan itu dilengkapi dengan dispenser air minum dan beberapa kotak makanan ringan yang tersusun rapi di sebuah meja kecil di sudut, detail yang terasa begitu ganjil di tengah situasi mengerikan yang mereka hadapi—seolah siapa pun yang merancang tempat ini ingin memastikan mereka cukup nyaman secara fisik untuk bertahan lebih lama, meski batin mereka diguncang habis-habisan. Tak seorang pun menyentuh makanan itu, meski perut mereka mulai berbunyi, terlalu waspada untuk mempercayai apa pun yang disediakan di tempat ini.

Bhirawa duduk paling jauh dari yang lain, matanya sesekali menatap Damar yang duduk di seberangnya, mencoba mencocokkan wajah itu dengan ribuan pekerja yang pernah bekerja di bawah bendera perusahaannya, tanpa pernah benar-benar mengenali satu pun dari mereka secara personal—sebuah kenyataan yang baru sekarang terasa memalukan baginya, mengingat betapa mudahnya ia menyebut angka "belasan korban" tanpa pernah membayangkan wajah-wajah di balik angka itu.

"Kau bekerja di tambang itu?" Bhirawa akhirnya bertanya, suaranya lebih pelan dari biasanya, kehilangan nada otoritatif yang biasa ia gunakan di ruang rapat.

Damar menatapnya lama sebelum menjawab, rahangnya mengeras. "Saya mandor lapangan. Tiga tahun. Sebelum semuanya berubah jadi apa yang saya kerjakan sekarang."

Tak ada kata lain yang keluar dari keduanya setelah itu, tapi sesuatu telah berubah di antara mereka—pengakuan diam-diam bahwa mereka berdua, dengan cara yang sangat berbeda, adalah bagian dari mesin yang sama yang menghasilkan tragedi yang kini mempertemukan mereka.

Marlina, yang duduk tak jauh dari keduanya, mendengarkan percakapan singkat itu dengan perasaan campur aduk, matanya beralih ke Alya yang tampak sibuk menulis sesuatu di buku catatan kecil yang ia keluarkan dari tasnya—insting jurnalistiknya rupanya tak pernah benar-benar padam, bahkan di tengah situasi seperti ini.

"Kau menulis apa?" Wulan bertanya, suaranya penuh kecurigaan, mengingat pekerjaan Alya sebagai jurnalis bisa berarti ancaman baru bagi mereka semua jika catatan itu suatu saat bocor ke publik.

"Kebiasaan lama," Alya menjawab singkat, menutup buku catatannya. "Tidak untuk dipublikasikan. Hanya untuk membantu saya berpikir."

Hendra, yang duduk paling gelisah di antara mereka, terus-menerus memeriksa jam tangannya, seolah berharap waktu bisa berjalan lebih lambat, atau justru lebih cepat—ia sendiri tak yakin mana yang lebih ia inginkan, antara menunda kengerian yang akan datang, atau segera menyelesaikannya agar tak perlu menanggung ketegangan ini lebih lama.

Lihat selengkapnya