BAB 12 — SEPULUH MENIT
Lorong itu semakin menyempit seiring mereka melangkah lebih dalam, memaksa mereka berjalan hampir berjajar satu per satu, punggung menempel dinding tanah yang lembap dan dingin, setiap langkah diperhitungkan dengan hati-hati di bawah pengawasan mata Damar yang terus waspada, membaca setiap detail yang terlewatkan oleh mata orang lain.
Suara tetesan air yang tak henti-hentinya bergema di sepanjang lorong menambah ketegangan yang sudah begitu mencekam, sesekali disertai derit kayu yang membuat mereka semua membeku sejenak, menahan napas, memastikan suara itu hanyalah bagian dari lingkungan lorong dan bukan pertanda keruntuhan yang akan datang.
Sepuluh menit tersisa, seperti yang tertampil di sebuah layar kecil yang tertanam di dinding lorong setiap beberapa meter, angka merah yang berkedip mengingatkan mereka bahwa waktu tak pernah benar-benar berpihak pada mereka.
"Di depan," Damar berhenti mendadak, tangannya terangkat memberi isyarat kepada yang lain untuk juga berhenti, matanya menyipit menatap sebuah penyangga tanpa tanda apa pun di sisi kiri lorong, tampak kokoh secara visual namun ada sesuatu dalam teksturnya yang membuat instingnya berteriak waspada. "Ini yang berbahaya. Bukan yang merah di sebelahnya."
Hendra, yang berjalan tepat di belakangnya, mengerutkan kening. "Bagaimana kau bisa yakin? Yang ditandai merah jelas-jelas—"
"Percayalah padaku," Damar memotong, suaranya lebih tegas dari yang pernah ia gunakan sejak kehilangan pekerjaannya. "Aku pernah melihat pola seperti ini sebelumnya. Penyangga yang ditandai jelas biasanya sudah diperiksa dan diperkuat sementara, justru yang tak ditandai yang paling berbahaya, karena tak ada yang mengharapkannya runtuh."
Kata-kata itu membuat Bhirawa membeku sejenak, menyadari betapa akuratnya deskripsi itu dengan apa yang sebenarnya terjadi di lereng tambang tiga tahun lalu—penyangga yang seharusnya diperiksa ulang, yang justru diabaikan karena dianggap "masih dalam kondisi wajar" oleh laporan yang sengaja dipermudah demi jadwal produksi.
"Bagaimana kau bisa begitu yakin dengan hal-hal seperti ini, tapi tak yakin melaporkan bahaya yang sesungguhnya tiga tahun lalu?" Hendra bertanya, nada suaranya tanpa sadar menajam, seolah mencoba mengalihkan rasa bersalahnya sendiri dengan menyerang orang lain.
Damar berhenti sejenak, matanya menatap Hendra dengan sesuatu yang menyerupai kemarahan yang selama ini ia tahan. "Karena aku melaporkannya, dan tak ada yang mendengarkan. Kau tahu rasanya melapor kepada orang yang lebih berkuasa darimu, dan diabaikan begitu saja? Atau kau justru orang yang biasa mengabaikan laporan semacam itu?"