BAB 13 — TERJEBAK
Slamet, yang berjalan di posisi paling belakang bersama Wulan, tanpa sengaja menyenggol sebuah penyangga tanpa tanda yang berada tepat di sampingnya, panik yang membuncah sejak awal memasuki lorong akhirnya mengalahkan kehati-hatiannya, dan detik berikutnya, gemuruh keruntuhan simulasi mengguncang bagian lorong yang baru saja mereka lewati.
Sejak awal memasuki lorong, Slamet memang tampak paling gelisah di antara mereka semua—langkahnya tak seyakin yang lain, matanya terlalu sering menoleh ke belakang, seolah mengharapkan seseorang datang menyelamatkannya dari situasi yang jauh melampaui batas kemampuannya. Kegugupan itu, dikombinasikan dengan tubuhnya yang kurang terlatih untuk situasi fisik menegangkan seperti ini, akhirnya menjadi kombinasi fatal yang memicu insiden yang tak seharusnya terjadi.
Debu dan serpihan kayu berjatuhan dari langit-langit, disertai suara mekanis yang mensimulasikan runtuhnya bebatuan, cukup meyakinkan untuk membuat jantung siapa pun berhenti sejenak—dan di tengah kekacauan itu, Slamet terjatuh, kakinya tersangkut di antara reruntuhan kayu yang tiba-tiba memenuhi jalur sempit lorong, tepat memisahkannya dari yang lain.
Suara gemuruh itu bergema panjang di sepanjang lorong, memantul dari dinding ke dinding hingga terasa seperti keruntuhan yang jauh lebih besar dari yang sebenarnya terjadi, cukup untuk membuat jantung setiap orang yang mendengarnya berdegup kencang, membangkitkan kembali ketakutan purba manusia terhadap ruang tertutup yang runtuh di sekelilingnya. Asap tipis bercampur debu mengepul dari titik keruntuhan, menyulitkan pandangan mereka yang berada beberapa meter di depan, membuat kepanikan semakin sulit dikendalikan.
"Tolong!" teriakan Slamet menggema di lorong itu, suara paniknya begitu nyata hingga tak seorang pun yang mendengarnya bisa membedakan apakah ini benar-benar simulasi atau sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari yang dijanjikan.
Suara itu terdengar begitu putus asa, membawa nada yang sama dengan teriakan-teriakan yang mungkin pernah menggema di lereng tambang yang asli, tiga tahun lalu, teriakan-teriakan yang mungkin tak pernah sempat didengar siapa pun yang bisa menolong, atau didengar namun sengaja diabaikan demi kepentingan yang lebih besar bagi mereka yang berkuasa saat itu.
Wulan yang berdiri paling dekat dengannya berbalik, matanya melebar melihat Slamet terjebak setengah badan di bawah reruntuhan kayu, wajahnya dipenuhi debu dan ketakutan yang begitu murni, mengingatkan Wulan pada wajah-wajah pekerja yang mungkin pernah terjebak dengan cara yang sama, tiga tahun lalu, di lereng yang asli.
"Bertahan, Pak Slamet!" Wulan berteriak, tangannya sudah mulai menyingkirkan puing-puing kecil yang berjatuhan di sekitar kaki pria itu, meski tenaganya sendiri terasa jauh dari cukup untuk mengangkat reruntuhan yang lebih besar.
Di depan mereka, yang lain berbalik mendengar teriakan itu, wajah-wajah yang tadinya fokus pada tujuan mencapai pintu keluar kini dipenuhi kebingungan dan ketakutan baru—sebuah momen krusial yang akan menentukan apakah mereka benar-benar telah berubah, atau masih menjadi orang-orang yang sama yang membuat pilihan salah tiga tahun lalu.