Setiap langkah terasa seperti pertarungan melawan waktu yang tak berbelas kasihan, tubuh Slamet yang gemetar dipapah oleh Hendra di satu sisi dan Wulan di sisi lain, sementara Damar terus memandu jalur teraman yang tersisa, matanya yang tajam kini dibayangi kepanikan yang coba ia tekan demi memimpin kelompok yang bergantung penuh padanya.
Keenam orang lainnya bergerak dengan koordinasi yang mengejutkan, mengingat betapa asingnya mereka satu sama lain hanya beberapa jam yang lalu—Alya di depan memandu arah, Marlina menjaga jarak dekat dengan Slamet untuk terus memantau kondisinya, sementara Bhirawa dan Damar mengapit di sisi-sisi yang lebih rentan terhadap bahaya, seolah insting untuk melindungi kelompok telah tumbuh begitu cepat di tengah tekanan situasi yang mereka hadapi bersama.
Langkah demi langkah mereka lalui dengan hati-hati namun cepat, keringat membasahi punggung masing-masing, napas yang mulai memburu bercampur dengan debu yang masih melayang di udara lorong sempit itu, menciptakan suasana yang begitu mencekam namun juga, secara mengejutkan, menyatukan.
"Empat menit," suara itu mengumumkan, membuat Alya yang berjalan di depan mempercepat langkahnya, sesekali menoleh ke belakang memastikan tak ada yang tertinggal, insting untuk melindungi yang lebih lemah tiba-tiba muncul begitu kuat dalam dirinya, jauh berbeda dari naluri mementingkan diri sendiri yang pernah membuatnya menerima amplop tiga tahun lalu.
Marlina, yang berjalan di samping Slamet, terus memantau kondisinya dengan mata seorang dokter, meski ia tahu ini hanya simulasi, insting profesionalnya tak bisa berhenti bekerja, tangannya sesekali menyentuh pergelangan kaki Slamet yang tampak bengkak—entah sungguhan atau efek dari sistem simulasi yang dirancang begitu meyakinkan.
"Aku baik-baik saja," Slamet berkata dengan suara lemah, meski wajahnya masih menunjukkan rasa sakit yang jelas. "Tinggalkan saja aku, kalian bisa sampai tepat waktu jika—"
"Tidak," Bhirawa memotong tegas, kata yang keluar begitu cepat hingga mengejutkan dirinya sendiri. "Tidak ada yang ditinggalkan kali ini."
Slamet menatap Bhirawa dengan mata berkaca-kaca, tak menyangka kata-kata setegas itu akan keluar dari seorang pengusaha yang selama ini hanya ia kenal reputasinya lewat berita-berita ekonomi—sosok yang selalu digambarkan dingin dan kalkulatif, kini justru menjadi orang pertama yang menolak meninggalkannya di tengah bahaya.
"Kenapa?" Slamet bertanya, suaranya nyaris tak terdengar, matanya penuh keheranan yang tulus. "Kau bahkan tak mengenalku."