Ruangan utama kembali menyala terang begitu mereka semua melewati ambang pintu, lorong gelap di belakang mereka tertutup rapat kembali ke dalam dinding, seolah tak pernah ada, meninggalkan hanya kenangan mengerikan dan debu yang masih menempel di pakaian mereka.
Mereka duduk kembali di kursi masing-masing, tubuh masih gemetar, napas belum sepenuhnya teratur, Slamet dipapah oleh Wulan dan Hendra ke kursinya, kakinya masih terasa nyeri meski simulasi itu sudah berakhir, memberi kesan yang begitu nyata hingga sulit dibedakan dari cedera sungguhan.
"Terima kasih," Slamet berbisik kepada mereka yang duduk di sekelilingnya, suaranya masih bergetar, matanya berkeliling menatap satu per satu wajah yang beberapa jam lalu masih terasa begitu asing, kini terasa seperti orang-orang yang baru saja mempertaruhkan sesuatu demi dirinya. "Aku tak menyangka kalian akan kembali."
"Kita semua di sini karena alasan yang sama," Alya menjawab pelan, matanya masih menatap lantai, seolah kata-kata itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri daripada untuk Slamet. "Mungkin ini saatnya kita berhenti bertindak seperti tiga tahun lalu."
Marlina, yang duduk di dekat mereka, mengangguk pelan menyetujui kata-kata Alya, meski di dalam hatinya masih bergejolak pertanyaan yang sama—apakah satu tindakan berani hari ini benar-benar cukup untuk mulai menebus kebohongan yang telah ia pertahankan selama tiga tahun terakhir, ataukah ini hanya ilusi sesaat yang akan hilang begitu tekanan permainan semakin meningkat di ronde-ronde berikutnya.
Layar raksasa menyala kembali, menampilkan siluet yang sama, diam sejenak sebelum akhirnya berbicara.
"Selamat," suara itu berkata, nada yang sulit dibaca apakah tulus atau sarkastis. "Kalian semua berhasil keluar, meski hampir kehabisan waktu. Namun aturan tetap aturan—Pak Slamet, karena keterlambatan yang disebabkan oleh insiden Anda, kehilangan satu nyawa sebagai konsekuensi."
Slamet menerima kabar itu dengan anggukan pasrah, tak berusaha membela diri, menyadari bahwa aturan permainan ini, meski kejam, setidaknya konsisten dalam menerapkan konsekuensi bagi setiap tindakan—sebuah keadilan mekanis yang jauh berbeda dari sistem yang selama ini ia manfaatkan sebagai kepala desa untuk menghindar dari tanggung jawab.
Panel di lengan kursi Slamet terbuka, memperlihatkan salah satu dari tujuh token keperakannya memudar perlahan hingga menghilang sepenuhnya, meninggalkan enam token yang tersisa berkilau di bawah cahaya lampu. Slamet menatap tokennya yang berkurang dengan ekspresi campur aduk—kelegaan karena masih hidup, namun juga ketakutan baru yang mulai tumbuh tentang apa yang akan terjadi jika ia kehabisan token sepenuhnya di ronde-ronde berikutnya.