BAB 16 — MALAM YANG TAK TENANG
Kamar kecil yang ditempati Bhirawa malam itu terasa begitu asing dari segala kemewahan yang biasa mengelilinginya—hanya sebuah ranjang sempit, meja kecil, dan cermin yang tergantung di dinding, memantulkan wajahnya yang masih dipenuhi debu dan keringat dari pengalaman di lorong tadi. Ia duduk di tepi ranjang itu lama, menatap tangannya yang lecet karena menyingkirkan reruntuhan kayu, tangan yang sama yang biasanya hanya menandatangani dokumen dan berjabat tangan dengan koleganya.
Ia teringat kembali betapa berbedanya rumahnya sendiri—kamar tidur seluas ruang tamu rumah kebanyakan orang, kasur empuk yang diimpor langsung dari Italia, dan pelayan yang siap sedia kapan pun ia butuhkan. Kontras itu terasa begitu tajam malam ini, membuatnya sadar betapa jauh jarak yang selama ini memisahkan dirinya dari kehidupan orang-orang yang bekerja di bawah perusahaannya, jarak yang mungkin membuatnya begitu mudah melupakan bahwa mereka adalah manusia dengan perasaan yang sama seperti dirinya.
Ia mencoba tidur, tapi setiap kali matanya terpejam, bayangan wajah Slamet yang ketakutan di bawah reruntuhan bercampur dengan bayangan lain yang selama tiga tahun ia coba tekan—wajah-wajah yang tak pernah benar-benar ia kenal, hanya angka dalam laporan yang ia baca sekilas sebelum menandatangani dokumen penutupan kasus. Untuk pertama kalinya, angka-angka itu terasa memiliki wajah, memiliki keluarga, memiliki kehidupan yang terenggut karena keputusannya.
Ia bangkit dari ranjangnya, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu, mencoba menenangkan pikirannya yang terus berputar. Ia teringat masa-masa awal membangun perusahaan bersama ayahnya, ketika idealisme masih menjadi bahan bakar utama setiap keputusan yang mereka ambil, jauh sebelum angka-angka keuangan menggantikan wajah-wajah manusia sebagai pertimbangan utama dalam setiap kebijakan perusahaan.
Di kamar sebelah, Damar berbaring menatap langit-langit, pikirannya masih dipenuhi pertanyaan yang belum terjawab—apakah ia harus memaafkan Bhirawa atas kebaikan yang ditunjukkannya hari ini, ataukah kebaikan sesaat itu tak cukup untuk menebus tiga tahun kehilangan yang harus ia tanggung sendirian. Ia meraih ponselnya yang sudah disita sejak awal memasuki bangunan ini—namun teringat, benda itu kini tersimpan entah di mana, jauh dari jangkauannya, membuatnya semakin merasa terisolasi dari dunia luar yang mungkin sedang mencemaskan keberadaannya.
Ia memejamkan mata, mencoba mengingat wajah Yudi dengan detail yang jelas, takut bahwa waktu perlahan mulai mengaburkan ingatan itu, seperti yang sering terjadi pada kenangan orang-orang yang telah tiada. Ia bertekad, apa pun yang terjadi di ronde-ronde berikutnya, ia tidak akan membiarkan nama Yudi dilupakan begitu saja, tenggelam dalam permainan yang mungkin punya agenda tersembunyi jauh lebih besar dari yang bisa mereka pahami.
Marlina, di kamarnya sendiri, duduk di depan cermin kecil, menatap wajahnya sendiri dengan tatapan yang asing, mempertanyakan kembali apakah dirinya masih pantas disebut dokter setelah kebohongan yang ia pertahankan selama tiga tahun. Ia teringat sumpah yang ia ucapkan saat wisuda kedokteran dulu, sumpah untuk selalu mengutamakan kebenaran dan keselamatan pasien di atas kepentingan lainnya—sumpah yang telah ia langgar demi menyelamatkan satu nyawa yang ia cintai, dengan mengorbankan keadilan bagi belasan nyawa lain yang tak pernah ia kenal.
Alya, yang duduk bersila di ranjangnya sambil membuka kembali folder arsip lama di ponselnya, membaca ulang draf artikel yang tak pernah tayang itu untuk kesekian kalinya malam itu, mencoba memutuskan apakah esok, di hadapan enam orang lain yang kini terikat oleh tragedi yang sama, ia akhirnya akan mengungkapkan seluruh kebenaran yang selama ini ia simpan, ataukah ketakutan lama akan kembali menguasainya.