Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #19

PTN17

BAB 17 — PENGAKUAN PERTAMA


Bhirawa mengenakan perangkat itu di pergelangan tangannya dengan tangan yang sedikit gemetar, merasakan sensor dingin menempel di kulitnya, seolah alat itu sudah bisa merasakan detak jantungnya yang mulai berpacu lebih cepat dari biasanya.

Ia menatap sekeliling ruangan sejenak sebelum pertanyaan pertama diajukan, melihat wajah-wajah yang kini menatapnya dengan campuran rasa ingin tahu dan penghakiman yang belum terucap—wajah-wajah yang beberapa jam lalu bekerja sama dengannya untuk menyelamatkan Slamet, kini akan menyaksikan sisi lain dari dirinya yang selama ini tersembunyi di balik jas mahal dan senyum korporat.

Ia teringat nasihat ayahnya bertahun-tahun lalu, tentang pentingnya menjaga citra di depan publik, tentang bagaimana kepercayaan investor adalah aset paling berharga yang harus dilindungi apa pun caranya. Nasihat yang selama ini ia pegang teguh, kini terasa begitu hampa menghadapi kenyataan bahwa citra yang selama ini ia jaga dibangun di atas fondasi kebohongan yang merenggut nyawa orang lain.

"Bhirawa Adinata Prakoso," suara itu memulai, formal namun mengancam dalam kesederhanaannya. "Pertanyaan pertama—apakah Anda mengetahui kondisi penyangga lereng tambang sebelum memerintahkan operasi tetap berjalan pada malam kejadian?"

Keheningan menyelimuti ruangan, semua mata tertuju pada Bhirawa yang duduk kaku di kursinya, rahangnya mengeras, matanya bergerak sesaat ke arah Damar yang duduk tak jauh darinya, sebelum akhirnya kembali menatap layar di depannya.

"Ya," ia menjawab, suaranya nyaris tak terdengar namun cukup jelas untuk didengar semua orang di ruangan itu. "Saya mengetahui laporan tentang penyangga yang tidak stabil."

Layar di lengan kursinya berkedip hijau, menandakan jawaban itu terdeteksi jujur. Kelegaan sesaat terlihat di wajahnya, sebelum pertanyaan berikutnya datang, lebih tajam dari sebelumnya.

"Kenapa Anda tetap memerintahkan operasi berjalan, mengetahui risiko yang ada?"

Bhirawa terdiam lebih lama kali ini, matanya menatap lantai, tangannya mengepal erat di atas pahanya.

Lihat selengkapnya