BAB 18 — KEBOHONGAN YANG TERUNGKAP
Hendra mengenakan perangkat itu dengan tangan yang jauh lebih gemetar dibandingkan Bhirawa sebelumnya, mengingat betapa banyak yang harus ia sembunyikan sepanjang kariernya sebagai pejabat, kebiasaan yang telah mendarah daging hingga ia sendiri kadang tak yakin lagi mana kebenaran dan mana kebohongan yang telah ia ulang-ulang begitu lama.
Ia mengingat kembali pelatihan-pelatihan kehumasan yang pernah ia ikuti bertahun-tahun lalu, tentang bagaimana menjawab pertanyaan wartawan tanpa benar-benar menjawab apa pun, tentang bagaimana membangun narasi yang terdengar meyakinkan meski tak sepenuhnya benar. Keahlian itu, yang dulu ia banggakan sebagai kemampuan komunikasi profesional, kini terasa seperti senjata yang menusuk balik dirinya sendiri, tak berguna sama sekali menghadapi perangkat yang bisa membaca detak jantungnya sendiri.
Ia menatap sekeliling ruangan, menyadari bahwa pengakuan Bhirawa barusan telah mengubah suasana—bukan lagi sekadar interogasi dingin, melainkan sesuatu yang lebih menyerupai ruang pengakuan dosa, tempat setiap kata yang keluar bisa membawa beban yang begitu berat bagi yang mendengarnya, bukan hanya bagi yang mengucapkannya.
Ia teringat bagaimana selama bertahun-tahun ia terlatih untuk selalu menampilkan wajah tenang di depan publik, bahkan ketika menghadapi tuduhan-tuduhan yang jauh lebih ringan dari yang akan ia hadapi sebentar lagi. Kebiasaan itu, yang dulu ia banggakan sebagai profesionalisme, kini terasa seperti topeng yang telah menyatu begitu erat dengan wajahnya sendiri, hingga ia sendiri kadang lupa bagaimana rasanya berkata jujur tanpa perhitungan.
"Hendra Wibisono," suara itu memulai. "Apakah Anda menerima uang dari PT Cahaya Bumi Perkasa terkait laporan investigasi keselamatan tambang?"
"Tidak," Hendra menjawab cepat, terlalu cepat, suaranya sedikit bergetar.
Layar di lengan kursinya berkedip merah, disertai suara peringatan singkat yang membuat seluruh ruangan tegang seketika.
"Terdeteksi kebohongan," suara itu mengumumkan datar. "Satu nyawa hilang, dan kebenaran akan ditampilkan."
Panel di lengan kursi Hendra terbuka, salah satu tokennya memudar dan menghilang, sementara layar raksasa di depan mereka menampilkan salinan digital dari dokumen transfer bank yang tersimpan rapi—bukti nyata yang selama ini ia kira telah dimusnahkan sempurna, kini terpampang di hadapan enam orang yang menatapnya dengan campuran kekecewaan dan kemarahan yang tak lagi bisa disembunyikan.