Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #21

PTN19

BAB 19 — LUKA YANG SAMA


Marlina mengenakan perangkat itu dengan tangan yang lebih tenang dibandingkan yang lain, meski hatinya berdebar kencang, sebuah ketenangan yang dipelajari bertahun-tahun sebagai dokter yang terbiasa menyampaikan kabar buruk kepada keluarga pasien tanpa kehilangan profesionalisme, meski kali ini kabar buruk itu tentang dirinya sendiri.

Ia menatap sekeliling ruangan sejenak, melihat wajah-wajah yang kini menunggu pengakuannya dengan campuran rasa penasaran dan simpati yang mulai tumbuh setelah menyaksikan dua pengakuan sebelumnya—satu yang mengungkap kerentanan tak terduga dari seorang taipan, satu lagi yang mengungkap kebiasaan menyangkal yang sudah mendarah daging pada seorang pejabat.

Ia teringat malam ketika amplop tebal itu pertama kali disodorkan kepadanya, di ruangan yang sama tempat ia sekarang duduk menandatangani berkas rekam medis pasien lain. Tangan yang menyodorkan amplop itu berbicara dengan nada yang begitu tenang, begitu meyakinkan, seolah apa yang mereka tawarkan adalah solusi sederhana untuk masalah yang rumit, bukan awal dari kebohongan yang akan menghantuinya selama bertahun-tahun ke depan.

"Marlina Kusuma," suara itu memulai. "Apakah Anda mengetahui bahwa sebab kematian sebenarnya berbeda dari yang tertulis dalam laporan resmi Anda?"

"Ya," Marlina menjawab tanpa ragu, suaranya jernih dan tegas, mengejutkan beberapa orang yang mungkin mengharapkan keraguan atau usaha untuk berkelit.

Hendra, yang mendengarkan jawaban tegas itu, merasakan sesuatu yang menyerupai kekaguman bercampur malu—kekaguman terhadap keberanian Marlina untuk langsung mengakui kebenaran tanpa berusaha berkelit sedikit pun, dan malu karena dirinya sendiri baru saja menunjukkan sikap yang jauh berbeda beberapa menit sebelumnya.

Layar berkedip hijau, dan Marlina melanjutkan sebelum pertanyaan berikutnya diajukan, seolah ingin segera menyelesaikan pengakuan yang selama ini ia tahan. "Saya tahu pola cedera itu konsisten dengan keruntuhan bertahap akibat penyangga yang tidak diperbaiki, bukan bencana mendadak seperti yang saya tuliskan."

Damar, yang mendengarkan penjelasan teknis itu dengan seksama, merasakan sesuatu yang menyerupai validasi yang telah lama ia cari—pengakuan medis resmi bahwa apa yang ia lihat dan laporkan bertahun-tahun lalu memang benar adanya, bukan sekadar kepanikan seorang mandor yang berlebihan seperti yang sering dituduhkan kepadanya saat itu.

"Kenapa Anda menuliskan kebohongan itu?"

"Karena seseorang menawarkan untuk membayar biaya kemoterapi ibu saya," Marlina menjawab, suaranya mulai bergetar meski ia berusaha mempertahankan ketenangannya. "Biaya yang tak akan pernah bisa saya tanggung sendiri dengan gaji dokter rumah sakit daerah. Saya memilih menyelamatkan satu nyawa yang saya cintai, dengan mengorbankan keadilan bagi banyak nyawa lain yang tak saya kenal."

Lihat selengkapnya