BAB 20 — HASIL RONDE KEDUA
Alya mengenakan perangkat itu dengan tangan yang gemetar hebat, jauh lebih gugup dibandingkan tiga peserta sebelumnya, mengingat betapa lama ia menyimpan kebenaran yang akan segera terungkap, kebenaran yang bahkan belum pernah ia ucapkan lengkap kepada siapa pun, termasuk kepada dirinya sendiri.
Ia menatap sekeliling ruangan sekali lagi sebelum pertanyaan dimulai, melihat wajah-wajah yang kini menunggu dengan sikap yang jauh berbeda dari beberapa jam sebelumnya—bukan lagi kecurigaan, melainkan semacam pengertian yang lahir dari pengakuan-pengakuan yang telah mereka saksikan bersama, sebuah bentuk solidaritas yang aneh namun terasa nyata di antara orang-orang yang sama-sama membawa dosa masa lalu.
"Alya Ramadhani," suara itu memulai. "Apakah Anda memiliki bukti lengkap tentang kelalaian keselamatan di tambang tersebut sebelum kejadian terjadi?"
"Ya," Alya menjawab, suaranya bergetar namun jelas. "Saya memiliki dokumen internal, kesaksian pekerja, dan foto-foto lereng yang sudah retak berbulan-bulan sebelum longsor."
"Kenapa artikel itu tidak pernah tayang?"
Alya menarik napas dalam, matanya berkaca-kaca. "Karena sehari sebelum jadwal tayang, saya menerima amplop berisi uang yang cukup untuk membayar biaya kemoterapi ibu saya yang saat itu menunggak tiga bulan, disertai peringatan bahwa karier dan keselamatan keluarga saya akan lebih aman jika berita itu ditunda tanpa batas waktu."
Marlina menatap Alya dengan mata berkaca-kaca, mengenali kesamaan luka yang mereka berdua bagi, dua wanita yang membuat pilihan yang sama menyakitkannya demi menyelamatkan ibu mereka masing-masing, meski dengan cara yang berbeda.
Damar, yang mendengarkan pengakuan itu, merasakan kemarahannya mulai teralihkan ke arah yang lebih luas—bukan lagi hanya terhadap individu-individu di ruangan ini, melainkan terhadap sistem yang begitu efektif memanfaatkan cinta dan keputusasaan orang-orang untuk membungkam kebenaran yang seharusnya dilindungi.
Ia menyadari bahwa setiap orang di ruangan ini, termasuk dirinya sendiri, adalah korban sekaligus pelaku dari sistem yang sama—sistem yang mengubah cinta menjadi kelemahan yang bisa dieksploitasi, yang mengubah keputusasaan menjadi celah bagi mereka yang berkuasa untuk membeli kebungkaman. Pemahaman ini tidak menghapus kemarahannya, tapi memberinya perspektif baru tentang betapa dalam dan luasnya akar masalah yang membawa mereka semua ke ruangan ini.