Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #24

PTN22

BAB 22 — SEPULUH MENIT SENDIRIAN


Bilik yang ditempati Bhirawa hanya berukuran satu setengah meter persegi, cukup untuk sebuah kursi kecil dan sebuah panel di depannya yang menampilkan dua kartu virtual—hijau dan merah—menunggu untuk disentuh. Ia duduk di sana, menatap kedua pilihan itu, teringat kembali janji yang baru saja ia ucapkan di hadapan yang lain.

Ia tahu, secara matematis, memilih kartu merah dan menargetkan siapa pun akan menjamin keselamatannya sendiri, tanpa risiko apa pun. Naluri bisnisnya yang telah terlatih bertahun-tahun mengambil keputusan berdasarkan kalkulasi untung-rugi berbisik pelan di telinganya, mengingatkan bahwa inilah persis jenis keputusan yang biasa ia buat tanpa ragu di ruang rapat direksi—mengorbankan satu pihak demi keamanan pihak lain, terutama demi keamanan dirinya sendiri.

Tapi ia juga mengingat wajah Damar di lorong itu, mengingat bagaimana pria yang seharusnya paling membencinya justru bekerja sama dengannya untuk menyelamatkan Slamet. Ia mengingat kata-katanya sendiri kemarin, pengakuan yang begitu sulit ia ucapkan namun begitu melegakan setelah keluar. Ia menyadari bahwa jika ia mengkhianati sekarang, semua yang telah ia bangun dalam dua hari terakhir—kepercayaan yang mulai tumbuh, penebusan yang mulai terasa nyata—akan runtuh dalam sekejap, digantikan oleh bukti bahwa dirinya tak pernah benar-benar berubah, hanya pandai berpura-pura ketika situasi menguntungkannya.

Tangannya bergerak mendekati kartu hijau, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuhnya dengan mantap. PERCAYA.

Di bilik sebelah, Damar duduk menatap kedua kartu itu dengan perasaan yang jauh lebih kompleks. Godaan untuk menargetkan Bhirawa masih membisikkan namanya di kepalanya—kesempatan untuk membuat pria itu merasakan sedikit dari apa yang telah ia rasakan, kehilangan sesuatu yang berharga karena keputusan orang lain, persis seperti yang terjadi pada Yudi tiga tahun lalu.

Ia menutup matanya, mencoba membayangkan wajah Yudi, mencoba bertanya pada bayangan itu apakah pembalasan semacam ini akan membuatnya merasa lebih baik, ataukah justru akan menempatkannya pada level yang sama dengan orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya—orang-orang yang mengambil keputusan berdasarkan kepentingan pribadi tanpa mempedulikan siapa yang akan terluka karenanya.

Ia teringat kata-kata Bhirawa kemarin, "Saya akan menghentikan operasi, saya akan kehilangan uang, tapi saya tidak akan kehilangan belasan nyawa." Kata-kata yang terdengar begitu tulus, begitu berbeda dari citra yang selama ini ia bayangkan tentang taipan tambang yang dingin dan kalkulatif. Jika ia mengkhianati sekarang, ia akan menjadi persis seperti yang selama ini ia benci—seseorang yang mengorbankan orang lain demi keamanan dirinya sendiri, tanpa mempedulikan konsekuensinya.

Tangannya menyentuh kartu hijau. PERCAYA.

Lihat selengkapnya