Ketujuh peserta kembali ke ruangan utama satu per satu, wajah-wajah mereka menunjukkan campuran kelegaan telah menyelesaikan pilihan sulit itu dan kecemasan baru menunggu hasil yang akan segera terungkap. Mereka duduk kembali di kursi masing-masing, tak seorang pun berani menatap mata yang lain terlalu lama, seolah takut ekspresi wajah mereka akan membocorkan pilihan yang seharusnya dirahasiakan.
Bhirawa memperhatikan tangan Slamet yang masih gemetar sejak kembali dari biliknya, sesuatu yang berbeda dari kegugupan biasa yang telah mereka semua rasakan—sebuah kegelisahan yang lebih dalam, lebih mencurigakan, meski Bhirawa mencoba menepis kecurigaan itu, mengingatkan dirinya sendiri bahwa mereka semua telah berjanji untuk saling percaya.
Layar raksasa menyala, siluet yang sama muncul, kali ini dengan jeda yang terasa lebih panjang dari sebelumnya, seolah sengaja memperpanjang ketegangan sebelum hasil diumumkan.
"Waktunya mengungkap pilihan kalian," suara itu berkata. "Satu per satu, kartu yang kalian pilih akan ditampilkan di layar ini."
Nama Bhirawa muncul pertama, disusul gambar kartu hijau yang berkilau di sampingnya. "PERCAYA."
Kelegaan kecil terlihat di wajah beberapa orang, meski mereka tahu ini baru permulaan, enam pilihan lain masih menunggu untuk diungkap. Bhirawa merasakan sesuatu yang menyerupai kebanggaan tersembunyi melihat namanya sendiri terhubung dengan kartu hijau itu, sebuah bukti kecil bahwa perubahan yang ia rasakan dalam dirinya bukan sekadar ilusi sesaat.
Nama Damar muncul berikutnya, kartu hijau yang sama menyertainya. "PERCAYA."
Wajah Damar tetap datar, meski ada sesuatu di matanya yang menyerupai kelegaan bahwa ia berhasil melawan godaan yang sempat menguasainya di dalam bilik tadi, godaan untuk membalas dendam yang selama tiga tahun ia simpan begitu dalam.
Marlina, kemudian Alya, kemudian Wulan—satu per satu nama mereka muncul, masing-masing disertai kartu hijau yang sama, membangun harapan yang perlahan tumbuh di ruangan itu bahwa mungkin, hanya mungkin, mereka semua telah memilih untuk saling percaya, bahwa solidaritas yang mereka bangun benar-benar nyata dan tak tergoyahkan bahkan oleh godaan keselamatan pribadi yang begitu menggiurkan.
Alya, yang menyaksikan namanya sendiri muncul dengan kartu hijau, merasakan sesuatu yang menyerupai kepuasan seorang peneliti yang melihat hipotesisnya terbukti benar—bahwa manusia, ketika diberi kesempatan dan didukung oleh ikatan yang tulus, mampu memilih kebaikan bahkan dalam sistem yang secara struktural menguntungkan pengkhianatan.
Nama Hendra muncul, kartu hijau yang sama. "PERCAYA."