Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #26

PTN24 — RETAK YANG PERTAMA

Ruangan itu terasa berbeda sekarang, sebuah keretakan yang nyata telah muncul di tengah solidaritas yang baru saja mereka bangun dengan susah payah selama dua hari terakhir. Damar, yang duduk menyaksikan seluruh drama itu dengan ekspresi yang sulit dibaca, akhirnya berbicara, suaranya tegas namun tidak sepenuhnya marah.

"Kita semua berjanji," Damar berkata, matanya menatap Slamet dengan campuran kekecewaan dan sesuatu yang menyerupai pengertian yang enggan ia akui. "Tapi aku juga tahu, ketakutan bisa membuat orang melakukan hal-hal yang tidak sepenuhnya mencerminkan siapa mereka sebenarnya."

Ia teringat kembali godaannya sendiri di dalam bilik tadi, godaan untuk menargetkan Bhirawa demi pembalasan yang telah lama ia inginkan, dan menyadari bahwa jarak antara dirinya dan Slamet mungkin tidak sejauh yang ingin ia percayai—keduanya sama-sama manusia yang rentan terhadap ketakutan dan godaan, meski keduanya berakhir dengan pilihan yang berbeda pada momen krusial itu.

"Itu tidak membenarkan apa yang ia lakukan," Alya menyela, suaranya tajam, kekecewaannya terhadap pengkhianatan itu jelas terlihat di wajahnya. "Kita semua takut. Kita semua punya alasan untuk mengkhianati. Tapi kita memilih untuk tidak melakukannya."

Ia menatap Slamet dengan pandangan yang campur aduk antara kemarahan dan rasa penasaran seorang jurnalis, ingin memahami lebih dalam bagaimana proses berpikir seseorang bisa berubah begitu drastis dalam ruang sepuluh menit yang sunyi, dari komitmen yang diucapkan dengan lantang menjadi pengkhianatan yang dilakukan dalam kesendirian.

Bhirawa, yang duduk mendengarkan perdebatan itu, teringat kembali godaannya sendiri untuk menargetkan siapa pun demi keselamatan dirinya, godaan yang berhasil ia lawan namun tidak sepenuhnya hilang dari pikirannya. Ia menyadari bahwa perbedaan antara dirinya dan Slamet mungkin bukan soal siapa yang lebih baik secara moral, melainkan soal siapa yang lebih berhasil mengendalikan ketakutan mereka pada momen krusial itu.

"Aku juga hampir memilih untuk mengkhianati," Bhirawa akhirnya mengaku, mengejutkan semua orang di ruangan itu, termasuk dirinya sendiri. "Godaan itu nyata bagi semua orang, aku yakin. Perbedaannya hanya siapa yang berhasil melawannya dan siapa yang tidak."

Pengakuan itu, meski tidak mengurangi rasa sakit Wulan, memberikan konteks baru bagi seluruh kelompok—bahwa mereka semua berdiri di ambang jurang yang sama, dan hanya keberuntungan atau kekuatan mental yang berbeda-beda yang membedakan siapa yang jatuh dan siapa yang berhasil bertahan.

"Kita tidak bisa terus saling menyalahkan," Marlina akhirnya berkata, mencoba menengahi ketegangan yang semakin memuncak di ruangan itu. "Ini persis apa yang diinginkan permainan ini—memecah belah kita, membuat kita saling curiga satu sama lain, sehingga kita lupa siapa musuh yang sebenarnya."

Kata-kata itu membuat semua orang terdiam sejenak, merenungkan kebenaran di baliknya—bahwa fokus kemarahan mereka seharusnya diarahkan kepada dalang yang merancang permainan kejam ini, bukan kepada Slamet yang, meski telah mengkhianati kepercayaan mereka, tetaplah korban dari sistem yang sengaja dirancang untuk mengeksploitasi ketakutan manusia paling dasar.

Lihat selengkapnya