Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #27

PTN25 — HASIL RONDE KETIGA

Layar raksasa menyala kembali, siluet yang sama muncul, seolah telah menunggu momen yang tepat untuk kembali menyapa mereka setelah menyaksikan drama yang baru saja terjadi.

"Menarik," suara itu berkata, nada yang sulit dibaca antara kepuasan dan sesuatu yang menyerupai kekecewaan tersembunyi. "Enam dari kalian memilih percaya, satu memilih mengkhianati. Sebuah rasio yang jauh lebih baik dari yang biasanya saya saksikan dalam ronde semacam ini."

Kata-kata itu mengejutkan beberapa orang di ruangan itu, menyadari untuk pertama kalinya bahwa permainan ini mungkin telah dimainkan sebelumnya, oleh kelompok-kelompok lain yang tak pernah mereka ketahui nasibnya. Alya, insting jurnalistiknya kembali aktif, mencatat detail itu dalam ingatannya—bukti lebih lanjut bahwa mereka bukan korban pertama dari sistem yang telah dirancang dengan begitu matang dan berulang kali diuji coba.

"Namun perlu diingat," suara itu melanjutkan, "pengkhianatan, betapa pun kecilnya, tetap meninggalkan luka yang nyata. Wulan kehilangan dua nyawa, kini tersisa lima. Slamet tetap mempertahankan enam nyawa yang sudah ia miliki, aman dari konsekuensi pilihannya sendiri, sesuai aturan yang telah dijelaskan sebelumnya."

Ketidakadilan dari aturan itu terasa begitu jelas bagi semua yang mendengarnya—bahwa sistem ini dirancang sedemikian rupa hingga pengkhianatan selalu menguntungkan pelakunya, sementara kepercayaan yang gagal dibalas hanya membawa kerugian bagi mereka yang memilihnya dengan tulus. Marlina merasakan kemarahan yang tumbuh terhadap sistem itu sendiri, lebih dari terhadap Slamet secara pribadi, menyadari bahwa struktur permainan ini sengaja dirancang untuk menghukum kebaikan dan menghadiahi keegoisan.

"Ini adalah gambaran kecil dari dunia yang kalian tinggalkan," suara itu melanjutkan, seolah membaca pikiran mereka. "Sistem yang menguntungkan mereka yang bersedia mengorbankan orang lain, sementara menghukum mereka yang memilih integritas. Bukankah begitu cara dunia bekerja selama ini, bagi kalian yang duduk di posisi kekuasaan, dan bagi kalian yang selalu menjadi korban dari keputusan orang lain?"

Kata-kata itu menghantam telak, terutama bagi Bhirawa dan Hendra, yang menyadari betapa akuratnya deskripsi itu menggambarkan sistem yang selama bertahun-tahun mereka manfaatkan tanpa pernah benar-benar mempertanyakan keadilannya. Bhirawa merasakan sesuatu yang menyerupai pengakuan pahit—bahwa perusahaan yang ia pimpin, sistem ekonomi yang ia jalankan, pada dasarnya beroperasi dengan logika yang sama persis dengan aturan ronde ini, menguntungkan mereka yang bersedia mengambil risiko mengorbankan pihak lain demi keuntungan pribadi.

"Kalian telah menunjukkan bahwa mayoritas dari kalian mampu memilih kepercayaan, bahkan ketika sistem secara struktural menguntungkan pengkhianatan," suara itu berkata, nada yang untuk pertama kalinya terdengar hampir menyerupai kekaguman yang tulus. "Ini adalah pencapaian yang jarang saya saksikan. Namun jangan berpuas diri terlalu cepat—ronde-ronde berikutnya akan menguji sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar pilihan biner semacam ini."

Lihat selengkapnya