Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #28

PTN26 — ATURAN LELANG

Pagi keempat menyambut mereka dengan cara yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya—lampu yang menyala otomatis, sarapan sederhana yang tak banyak disentuh, dan ketegangan yang sudah menjadi teman akrab setiap kali mereka melangkah kembali ke ruangan utama untuk menghadapi ronde berikutnya. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda dalam suasana ruangan itu—keretakan yang ditinggalkan pengkhianatan Slamet kemarin masih terasa, meski mereka telah sepakat untuk tetap bersatu, luka semacam itu tak sepenuhnya bisa dihapus hanya dengan kesepakatan lisan.

Wulan duduk dengan lima token yang tersisa di panel lengan kursinya, jumlah yang kini paling sedikit di antara mereka semua, sebuah pengingat visual yang menyakitkan setiap kali ia menatapnya. Slamet, yang duduk beberapa kursi darinya, sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan penuh penyesalan yang belum sepenuhnya bisa ia ungkapkan lewat kata-kata.

Layar raksasa menyala, siluet yang sama muncul, kali ini dengan sesuatu yang menyerupai antisipasi dalam nada suaranya, seolah ronde hari ini adalah salah satu yang paling ia nantikan untuk disaksikan.

"Selamat pagi," suara itu menyapa. "Kalian telah melalui tiga ronde dengan cara yang mengejutkan saya berkali-kali—solidaritas, kejujuran, dan meski ada satu pengkhianatan, mayoritas dari kalian tetap memilih kepercayaan. Hari ini, saya ingin menguji sesuatu yang berbeda—bukan lagi tentang siapa yang bisa kalian percaya, melainkan tentang apa yang bersedia kalian korbankan, dan seberapa adil pengorbanan itu bisa dibagi di antara kalian yang datang dari latar belakang yang begitu berbeda."

Sebuah panel besar muncul di tengah ruangan, menampilkan tujuh nama mereka dengan jumlah token yang tersisa di sebelahnya—Bhirawa 7, Damar 7, Marlina 7, Alya 7, Hendra 6, Slamet 6, Wulan 5.

"Ronde ini disebut Lelang Nyawa," suara itu melanjutkan. "Kalian masing-masing akan diberi kesempatan untuk menawarkan sesuatu dari kehidupan kalian di luar sana—uang, aset, informasi, pengakuan publik, apa pun yang menurut kalian cukup berharga—sebagai ganti token tambahan yang baru, baik untuk diri kalian sendiri maupun untuk diberikan kepada orang lain yang kalian pilih. Sistem kami memiliki akses untuk memverifikasi dan mengeksekusi transaksi semacam ini secara langsung, tanpa perlu kalian keluar dari ruangan ini. Kalian juga bebas membagikan sebagian dari token yang sudah kalian miliki kepada satu sama lain, jika kalian memilih demikian."

Keheningan yang menyelimuti ruangan itu dipenuhi kebingungan yang perlahan berubah menjadi kesadaran mengerikan—bahwa sistem ini entah bagaimana memiliki kemampuan untuk mengakses rekening bank, dokumen hukum, bahkan mungkin media publikasi, sebuah kekuatan yang jauh melampaui apa pun yang bisa mereka bayangkan dari sekadar permainan bertaruh nyawa.

"Bagaimana caranya sistem ini bisa melakukan transaksi nyata?" Hendra bertanya, suaranya penuh kecurigaan yang tak bisa ia sembunyikan, insting seorang pejabat yang terbiasa dengan birokrasi rumit membuatnya sulit percaya bahwa proses semacam itu bisa dilakukan semudah yang dijelaskan.

Lihat selengkapnya