Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #29

PTN27 — KESENJANGAN YANG TERBUKA

Tiga puluh menit yang diberikan terasa seperti waktu paling menegangkan sejak permainan ini dimulai, bukan karena ancaman fisik atau tekanan psikologis langsung, melainkan karena kesadaran yang perlahan menyebar ke seluruh ruangan bahwa ronde ini akan membuka luka lama yang selama ini tersembunyi di balik solidaritas yang telah mereka bangun—luka tentang kelas sosial, tentang siapa yang punya dan siapa yang tidak, tentang bagaimana masyarakat memperlakukan mereka yang berkuasa secara berbeda dari mereka yang tidak.

Bhirawa duduk sendirian di sudut ruangan, menghitung dalam kepalanya berapa banyak aset yang bisa ia korbankan tanpa benar-benar menghancurkan kerajaan bisnis yang telah ia bangun bersama ayahnya. Angka-angka itu berputar di kepalanya dengan kecepatan yang biasa ia gunakan dalam rapat direksi, namun kali ini disertai perasaan yang jauh berbeda—bukan lagi kalkulasi murni untuk memaksimalkan keuntungan, melainkan pertimbangan tentang bagaimana ia bisa menggunakan kekayaannya untuk benar-benar membantu orang lain, bukan sekadar dirinya sendiri.

Damar, yang duduk di seberang ruangan, memperhatikan Bhirawa dengan tatapan yang penuh kepahitan. Ia teringat kembali gaji bulanannya sebagai mandor tambang, gaji yang dulu terasa cukup namun kini, dibandingkan dengan kekayaan yang jelas-jelas dimiliki Bhirawa, terasa begitu tidak berarti. Kepahitan itu bercampur dengan rasa malu yang aneh, malu karena tak punya apa pun untuk ditawarkan, malu karena kemiskinannya sendiri terasa seperti kelemahan yang akan segera diekspos di hadapan enam orang lainnya.

Slamet, yang duduk tak jauh dari Damar, merasakan kepahitan yang berbeda—bukan kepahitan karena tak punya apa-apa, melainkan rasa malu karena justru memiliki terlalu banyak, dan dari sumber yang salah. Rumah dan tanah yang ia banggakan selama ini, yang dulu ia tunjukkan kepada tetangga-tetangganya dengan dada tegak, kini terasa seperti bukti kejahatan yang dipajang di depan mata enam orang yang bisa membaca angka-angka itu dengan lebih jujur daripada dirinya sendiri selama tiga tahun terakhir.

"Aku tidak punya apa-apa untuk ditawarkan," Damar akhirnya berkata, suaranya pahit, ditujukan kepada siapa pun yang mau mendengarkan. "Rumahku hanya kontrakan. Motorku sudah lima tahun umurnya. Tabunganku habis untuk biaya hidup bulan ini saja."

Marlina, yang mendengarkan pengakuan itu, merasakan sesuatu yang menyerupai rasa bersalah, menyadari bahwa dirinya sendiri, meski bukan orang kaya seperti Bhirawa, tetap memiliki lebih banyak dibandingkan Damar—gaji dokter, meski tak besar, cukup untuk memberinya sedikit ruang bernapas finansial yang tak dimiliki seorang mantan mandor tambang yang kini menjadi pengemudi ojek daring.

Alya, yang duduk memperhatikan dinamika itu dengan mata seorang jurnalis, menyadari bahwa momen ini adalah representasi sempurna dari apa yang selama ini ingin ia tulis dalam artikelnya yang tak pernah tayang—bagaimana sistem ekonomi yang timpang menciptakan kerentanan yang berlapis, di mana mereka yang paling menderita akibat keputusan orang lain juga menjadi yang paling tak berdaya untuk membeli keluar dari penderitaan itu.

"Aku punya sedikit tabungan," Alya berkata pelan, mencoba menawarkan sesuatu meski jumlahnya jauh dari signifikan dibandingkan kekayaan Bhirawa. "Tidak banyak, tapi mungkin cukup untuk sesuatu."

Wulan, yang masih menahan luka dari pengkhianatan kemarin, merasakan campuran emosi yang rumit—di satu sisi, ia ingin menawarkan sesuatu untuk membantu kelompok ini, namun di sisi lain, ia juga menyadari betapa terbatasnya sumber daya yang ia miliki dibandingkan dengan Bhirawa atau bahkan Hendra yang masih memiliki gaji pejabat yang cukup besar.

Lihat selengkapnya