Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #30

PTN28 — PENAWARAN PERTAMA

Ketujuh peserta kembali ke ruangan utama, dan layar raksasa menyala kembali, menampilkan panel lelang yang siap menerima penawaran mereka satu per satu, sesuai urutan yang ditentukan oleh sistem, dimulai dari Bhirawa.

"Bhirawa Adinata Prakoso," suara itu memanggil. "Apa yang bersedia Anda tawarkan?"

Bhirawa berdiri, tangannya sedikit gemetar meski suaranya berusaha terdengar mantap. "Saya menawarkan dua puluh persen saham pribadi saya di PT Cahaya Bumi Perkasa, untuk disalurkan langsung ke dana kompensasi bagi keluarga korban longsor tiga tahun lalu—jumlah yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka terima sebelumnya. Dan saya ingin token baru yang saya dapatkan dari penawaran ini diberikan kepada Wulan, sebagai kompensasi atas kehilangannya di ronde sebelumnya."

Keheningan yang menyelimuti ruangan itu begitu berat, semua orang mencoba mencerna besarnya penawaran yang baru saja diucapkan—jumlah yang, jika benar-benar terlaksana, akan mengubah hidup puluhan keluarga korban selamanya, sekaligus menunjukkan sesuatu yang jauh lebih personal: kesediaan Bhirawa untuk memberikan keuntungan itu bukan kepada dirinya sendiri, melainkan kepada orang lain yang membutuhkannya.

Bhirawa, merasakan semua mata tertuju padanya, melanjutkan sebelum keheningan itu berubah menjadi keraguan. "Dua puluh persen bukan angka yang aku pilih secara acak," ia menjelaskan, suaranya mulai lebih stabil. "Itu adalah bagian saham pribadi saya yang paling murni—bukan saham perusahaan yang akan mempengaruhi ribuan karyawan lain jika ditarik mendadak, melainkan kepemilikan pribadi yang sepenuhnya menjadi hak saya untuk dilepaskan tanpa merusak apa pun selain kekayaan saya sendiri." Penjelasan itu, meski terdengar seperti kalkulasi seorang pengusaha, justru menambah bobot ketulusan di balik tawarannya—bukti bahwa ia telah memikirkan konsekuensi lebih jauh daripada sekadar gestur simbolis di depan enam orang lainnya.

Wulan menatap Bhirawa dengan mata berkaca-kaca, tak menyangka gestur sebesar itu akan ditujukan kepadanya, terutama setelah luka pengkhianatan yang baru saja ia alami kemarin.

"Penawaran diterima," suara itu mengumumkan. "Dua token baru akan diberikan kepada Wulan, mengembalikan jumlahnya menjadi tujuh."

Panel di lengan kursi Wulan berkedip, dua token baru muncul, mengembalikan jumlahnya ke tujuh yang utuh, sebuah pemulihan yang terasa begitu simbolis mengingat bagaimana ia kehilangannya.

"Terima kasih," Wulan berbisik kepada Bhirawa, suaranya bergetar oleh emosi yang sulit ia gambarkan—rasa terharu bercampur dengan kesadaran bahwa gestur ini, meski tulus, juga mengungkap betapa mudahnya bagi orang seperti Bhirawa untuk memberikan kompensasi sebesar itu, sesuatu yang tak akan pernah bisa dilakukan oleh Damar atau dirinya sendiri.

Lihat selengkapnya