Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #31

PTN29 — YANG TAK PUNYA APA-APA

"Marlina Kusuma," suara itu memanggil. "Apa yang bersedia Anda tawarkan?"

Marlina berdiri, suaranya lebih tenang dari yang lain, meski matanya berkaca-kaca. "Saya menawarkan untuk menerbitkan koreksi resmi atas laporan autopsi yang saya buat tiga tahun lalu, mengakui kesalahan yang sebenarnya kepada publik, meski itu berarti kehilangan lisensi praktik saya sebagai dokter. Saya ingin token baru yang saya dapatkan diberikan kepada Slamet, sebagai kesempatan kedua yang mungkin bisa membantunya menebus kesalahannya."

Slamet menatap Marlina dengan mata terbelalak, tak menyangka orang yang baru saja ia khianati kepercayaannya—meski secara tidak langsung, melalui Wulan yang adalah teman dekatnya di lorong itu—akan menawarkan pengorbanan sebesar itu untuknya.

Marlina menatap Slamet sejenak sebelum melanjutkan, suaranya melunak. "Aku tahu kau dan aku tidak pernah benar-benar dekat, bahkan sebelum pengkhianatanmu kemarin. Tapi aku melihat bagaimana kau berusaha memperbaiki keadaan sejak saat itu, dan aku pikir kau pantas mendapatkan kesempatan kedua yang sama seperti yang aku harapkan untuk diriku sendiri." Kata-kata itu, sederhana namun tulus, membuat Slamet menunduk, tak sanggup menahan emosinya di depan orang yang seharusnya paling punya alasan untuk tak mempercayainya.

"Penawaran diterima," suara itu mengumumkan. "Dua token baru akan diberikan kepada Slamet."

Marlina, yang menyaksikan reaksi Slamet, merasakan sesuatu yang menyerupai kelegaan—bukan karena token yang baru saja ia relakan, melainkan karena menyadari bahwa tindakan kecilnya mungkin telah membantu memulihkan sedikit kepercayaan yang hilang di antara mereka, sebuah investasi emosional yang terasa jauh lebih berharga dibandingkan dua token yang baru saja berpindah tangan.

Alya, yang gilirannya tiba berikutnya, berdiri dengan tangan gemetar. "Saya menawarkan untuk menerbitkan artikel investigasi lengkap tentang tragedi tambang ini, menggunakan bukti yang saya simpan selama tiga tahun, meski itu berarti mengakui secara publik bahwa saya pernah menerima suap untuk membungkam kebenaran. Saya ingin token baru ini untuk diri saya sendiri, karena saya butuh keberanian untuk benar-benar melakukan ini setelah keluar dari sini."

"Penawaran diterima," suara itu mengumumkan. "Satu token baru akan diberikan kepada Alya sendiri."

Pengakuan jujur itu, alih-alih dianggap egois oleh yang lain, justru diterima dengan pengertian—menyadari bahwa keberanian untuk menghadapi konsekuensi publik atas kesalahan masa lalu adalah pengorbanan tersendiri yang tak kalah beratnya dari penawaran yang lain.

Lihat selengkapnya