Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #32

PTN30 — HASIL LELANG

Slamet, yang gilirannya tiba terakhir, berdiri dengan tangan gemetar hebat. "Aku menawarkan seluruh rumah dan tanah yang aku bangun dari dana kompensasi yang aku curi, untuk dikembalikan sepenuhnya kepada keluarga korban di desaku. Aku ingin token baru ini diberikan kepada Wulan, karena aku masih merasa berutang kepadanya atas apa yang aku lakukan kemarin."

Wulan menatap Slamet lama, air mata mulai mengalir di pipinya—bukan lagi air mata kemarahan, melainkan sesuatu yang menyerupai pengampunan yang mulai tumbuh perlahan, menyaksikan pengorbanan nyata yang jauh melampaui kata-kata permintaan maaf yang telah ia dengar kemarin.

"Penawaran diterima," suara itu mengumumkan. "Tiga token baru akan diberikan kepada Wulan."

Layar raksasa menampilkan ringkasan akhir token setiap peserta—Bhirawa 7, Damar 6, Marlina 7, Alya 8, Hendra 8, Slamet 10, Wulan 10—sebuah redistribusi yang begitu berbeda dari kesenjangan yang mereka mulai dengan di awal ronde ini, meski proses untuk mencapainya mengungkap begitu banyak lapisan ketidakadilan yang selama ini tersembunyi di antara mereka.

"Menarik," suara itu berkata, nada yang sulit dibaca antara kekaguman dan sesuatu yang menyerupai kekecewaan tersembunyi. "Saya merancang ronde ini untuk mengungkap kesenjangan di antara kalian, untuk menunjukkan betapa mudahnya bagi mereka yang berkuasa untuk membeli keselamatan sementara yang lain hanya bisa menyaksikan dari kejauhan. Namun kalian, dengan cara yang tak saya duga, mengubah ronde ini menjadi sesuatu yang lain—bukan kompetisi untuk keselamatan pribadi, melainkan redistribusi kolektif yang justru menyamakan kesenjangan yang seharusnya saya perlihatkan."

Bhirawa, yang mendengarkan kata-kata itu, merasakan sesuatu yang menyerupai kepuasan yang tulus, sebuah perasaan yang begitu berbeda dari kepuasan yang biasa ia rasakan setiap kali menutup kesepakatan bisnis yang menguntungkan dirinya sendiri.

"Namun jangan salah paham," suara itu melanjutkan, nadanya kembali tegas. "Redistribusi yang kalian lakukan hari ini tidak menghapus fakta bahwa sistem di luar sana tetap menguntungkan mereka yang berkuasa. Apa yang kalian lakukan di ruangan ini adalah pengecualian, bukan aturan. Ronde-ronde berikutnya akan terus menguji apakah pengecualian ini bisa bertahan, atau hanya ilusi sesaat yang akan runtuh ketika tekanan menjadi semakin berat."

Layar menampilkan angka romawi "V", disertai kata-kata: RONDE KELIMA — SUARA KORBAN.

Lihat selengkapnya