Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #33

PTN31 — WAJAH-WAJAH YANG MENUNGGU

Pagi kelima di dalam bangunan itu terasa berbeda dari pagi-pagi sebelumnya—sebuah kesunyian yang lebih dalam menyelimuti ketujuh peserta yang berkumpul kembali di ruangan utama, masing-masing membawa beban kecemasan yang jauh lebih personal dibandingkan ronde-ronde sebelumnya. Redistribusi token dari lelang kemarin telah menciptakan keseimbangan baru yang lebih adil di antara mereka, namun keadilan finansial itu terasa begitu kecil dibandingkan dengan apa yang akan mereka hadapi hari ini.

Wulan, yang kini memiliki sepuluh token, duduk dengan tangan terlipat di pangkuannya, matanya menatap kosong ke arah layar raksasa yang masih gelap, pikirannya dipenuhi bayangan wajah-wajah yang mungkin akan ia temui—bukan lagi wajah rekan-rekannya di ruangan ini, melainkan wajah orang-orang yang selama ini hanya ia bayangkan lewat laporan yang ia tandatangani bertahun-tahun lalu.

Layar raksasa menyala, siluet yang sama muncul, kali ini dengan nada yang terasa lebih berat, lebih serius dari ronde-ronde sebelumnya, seolah bahkan dalang misterius itu menyadari beratnya apa yang akan segera terjadi.

"Selamat pagi," suara itu menyapa, jeda yang mengikutinya terasa lebih panjang dari biasanya. "Empat ronde telah kalian lalui—solidaritas, kejujuran, pengkhianatan, dan pengorbanan. Kalian telah menunjukkan bahwa manusia, bahkan dalam kondisi paling ekstrem sekalipun, mampu memilih kebaikan di atas kepentingan pribadi. Namun hari ini, saya ingin menguji sesuatu yang jauh lebih personal—bukan lagi bagaimana kalian memperlakukan satu sama lain, melainkan bagaimana kalian menghadapi orang-orang yang benar-benar menderita akibat keputusan kalian."

Ketujuh orang itu saling bertukar pandang, ketegangan yang mengalir di antara mereka terasa begitu kental, masing-masing mulai menyadari implikasi mengerikan dari kata-kata yang baru saja diucapkan.

"Ronde ini disebut Suara Korban," suara itu melanjutkan. "Satu per satu, kalian akan memasuki bilik terpisah, di mana kalian akan berhadapan langsung, melalui panggilan video langsung, dengan satu anggota keluarga korban yang terkait langsung dengan peran kalian dalam tragedi tiga tahun lalu. Mereka telah diberi tahu sebagian dari kebenaran yang telah kalian ungkapkan di ronde-ronde sebelumnya, dan mereka berhak bertanya apa pun yang ingin mereka ketahui."

Damar merasakan jantungnya berhenti sejenak, sebuah harapan dan ketakutan yang sama besarnya muncul bersamaan dalam benaknya—kemungkinan bahwa ia akan bertemu dengan seseorang dari keluarga Yudi, seseorang yang mungkin telah menunggu tiga tahun untuk mendengar penjelasan yang tak pernah sempat ia berikan.

"Apa yang terjadi jika mereka tidak bersedia berbicara dengan kami?" Marlina bertanya, suaranya bergetar, membayangkan kemungkinan bahwa keluarga yang ia rugikan mungkin menolak sepenuhnya untuk mendengar kata-katanya.

"Setiap keluarga yang kami hubungi telah setuju untuk berpartisipasi, meski beberapa dengan keraguan yang besar," suara itu menjawab. "Mereka diberi tahu bahwa ini adalah kesempatan bagi mereka untuk didengar secara langsung oleh orang-orang yang bertanggung jawab atas tragedi yang mengubah hidup mereka selamanya, sebuah kesempatan yang selama ini tak pernah mereka dapatkan lewat jalur hukum atau media resmi."

Lihat selengkapnya