Bilik yang dimasuki Damar lebih luas dari bilik-bilik sebelumnya, dilengkapi sebuah kursi nyaman dan layar besar yang menampilkan latar belakang ruangan sederhana—sebuah rumah kecil dengan dinding kayu, foto-foto keluarga tergantung di belakang sosok yang duduk menunggunya di layar itu.
Wajah itu langsung dikenali Damar meski telah tiga tahun berlalu—Sari, istri Yudi, kini terlihat lebih tua dari usianya yang sebenarnya, garis-garis kelelahan tergurat jelas di wajahnya yang dulu selalu ceria setiap kali Damar berkunjung ke rumah mereka untuk minum kopi bersama Yudi sepulang kerja, dulu sebelum semuanya berubah.
"Sari," Damar berbisik, suaranya tercekat, air mata langsung menggenang di matanya melihat wajah yang telah lama tak pernah lagi ia temui, terlalu takut dan malu untuk mengunjungi keluarga sahabatnya sendiri setelah tragedi itu terjadi.
"Damar," Sari menjawab, suaranya datar, sulit dibaca apakah menyembunyikan kemarahan atau sekadar kelelahan yang mendalam. "Aku tidak menyangka akan melihatmu lagi, apalagi dengan cara seperti ini."
"Aku minta maaf," Damar langsung berkata, tak sanggup menahan kata-kata yang telah tiga tahun terpendam dalam dirinya. "Aku seharusnya berbuat lebih dari sekadar melapor. Aku seharusnya menolak menyuruh Yudi masuk malam itu, aku seharusnya—"
"Berhenti," Sari memotong, suaranya kini bergetar oleh emosi yang mulai pecah. "Aku sudah mendengar cerita itu berkali-kali dari investigasi resmi. Yang ingin aku tahu bukan pengulangan fakta yang sudah aku ketahui. Aku ingin tahu, kenapa kau tidak pernah datang menemuiku setelah itu? Kenapa kau menghilang begitu saja, meninggalkan aku sendirian dengan bayi yang bahkan belum sempat mengenal ayahnya?"
Pertanyaan itu menghantam Damar lebih keras dari apa pun yang pernah ia dengar sepanjang permainan ini, sebuah kebenaran yang selama ini ia hindari untuk direnungkan—bahwa kegagalannya bukan hanya pada malam longsor itu, melainkan juga pada bulan-bulan dan tahun-tahun setelahnya, ketika ia memilih mengasingkan diri dari rasa bersalah alih-alih menghadapinya dan mendukung keluarga yang ditinggalkan sahabatnya.
"Aku terlalu pengecut," Damar akhirnya mengakui, suaranya pecah sepenuhnya. "Aku tidak sanggup melihat wajahmu, melihat anakmu tumbuh tanpa ayah, mengetahui bahwa aku bisa saja berbuat lebih untuk mencegahnya. Rasa bersalah itu terlalu berat, dan aku memilih lari daripada menghadapinya, meninggalkanmu untuk berjuang sendirian."
Sari terdiam lama, air mata mengalir di pipinya yang lelah, sebelum akhirnya berbicara lagi, suaranya lebih lembut meski masih menyimpan luka yang dalam. "Anakku sekarang berumur empat tahun. Dia sering bertanya tentang ayahnya, dan aku tidak selalu tahu bagaimana menjawabnya dengan cara yang tidak membuatnya sedih. Aku bekerja dua pekerjaan hanya untuk memastikan dia bisa sekolah dengan layak, sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya bebanku sendiri."
Damar merasakan hatinya hancur mendengar detail kehidupan yang begitu sulit itu, menyadari betapa egoisnya keputusannya untuk mengasingkan diri dari rasa bersalah, sementara Sari harus menanggung beban nyata membesarkan anak sendirian tanpa dukungan apa pun darinya, tanpa seorang pun yang bisa berbagi cerita tentang seperti apa Yudi sebagai seorang ayah dan sahabat.
"Aku ingin memperbaiki ini," Damar berkata, tekad baru mulai tumbuh dalam suaranya. "Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi aku ingin menjadi bagian dari kehidupan anakmu, membantu apa pun yang aku bisa, meski aku tahu itu tak akan pernah menggantikan ayahnya yang hilang."