Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #35

PTN33 — PENGAKUAN DI HADAPAN IBU

Sementara Damar masih menunggu keputusan Sari, di bilik lain, Bhirawa duduk berhadapan dengan layar yang menampilkan seorang wanita paruh baya, wajahnya keras namun matanya menyimpan kesedihan yang mendalam—Bu Yanti, ibu dari salah satu korban termuda dalam tragedi longsor itu, seorang pekerja tambang berusia dua puluh dua tahun yang baru enam bulan bekerja sebelum kematiannya.

"Pak Bhirawa," Bu Yanti memulai, suaranya tegas meski bergetar. "Anak saya, Roni, baru saja lulus SMK ketika ia mulai bekerja di tambang Anda. Dia bercerita betapa bangganya bisa membantu ekonomi keluarga kami. Dia tidak pernah sempat menikah, tidak pernah sempat punya anak, tidak pernah sempat mewujudkan mimpi-mimpinya."

Bhirawa merasakan tenggorokannya tercekat, tak mampu langsung menjawab, menyaksikan kesedihan yang begitu nyata dan personal dari seorang ibu yang kehilangan anaknya karena keputusan yang ia buat demi angka-angka dalam laporan keuangan perusahaan, angka-angka yang kini terasa begitu hampa dibandingkan dengan wajah nyata di hadapannya.

"Saya sangat menyesal," Bhirawa akhirnya berkata, suaranya bergetar. "Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa menyesalnya saya atas kematian putra Anda, dan atas keputusan saya yang menyebabkannya."

"Menyesal tidak mengembalikan Roni kepada saya," Bu Yanti menjawab, suaranya kini lebih keras. "Saya mendengar Anda menawarkan saham perusahaan sebagai kompensasi kemarin. Apakah Anda pikir uang bisa menggantikan nyawa anak saya?"

"Tidak," Bhirawa menjawab cepat, menyadari betapa naifnya asumsi itu jika benar-benar ia pikirkan seperti itu. "Tidak ada jumlah uang yang bisa menggantikan nyawa siapa pun. Saya menawarkan itu bukan sebagai penukar nyawa Roni, melainkan sebagai pengakuan bahwa keluarga-keluarga seperti Anda seharusnya menerima dukungan yang jauh lebih besar dari yang pernah Anda terima, dan sebagai komitmen saya untuk memastikan tragedi seperti ini tidak akan terulang lagi di masa depan."

Bu Yanti terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke arah kamera, seolah mencoba membaca ketulusan di balik kata-kata itu. "Apa yang akan Anda lakukan berbeda jika Anda memiliki kesempatan untuk kembali ke masa itu?"

"Saya akan menghentikan operasi tambang begitu laporan keselamatan pertama menunjukkan tanda bahaya," Bhirawa menjawab tegas, mengulangi janji yang telah ia ucapkan di ronde kedua, kali ini di hadapan seseorang yang benar-benar kehilangan segalanya karena kegagalannya menepati prinsip itu tiga tahun lalu. "Saya akan mengutamakan keselamatan pekerja di atas target produksi, tidak peduli berapa besar kerugian finansial yang harus perusahaan tanggung."

"Kata-kata mudah diucapkan setelah kejadiannya," Bu Yanti berkata, nadanya masih skeptis. "Bagaimana saya bisa yakin Anda benar-benar akan berubah, bukan hanya mengatakan apa yang ingin saya dengar untuk mendapatkan pengampunan dalam permainan aneh ini?"

Pertanyaan itu menghantam Bhirawa dengan kejujuran yang begitu tajam, menyadari bahwa apa pun yang ia katakan sekarang akan selalu diragukan, mengingat rekam jejaknya selama tiga tahun terakhir yang tak menunjukkan perubahan nyata sampai dipaksa oleh permainan ekstrem ini.

"Anda benar untuk skeptis," Bhirawa akhirnya mengakui. "Saya tidak bisa membuktikan perubahan saya hanya lewat kata-kata dalam percakapan ini. Yang bisa saya lakukan adalah berjanji untuk mempublikasikan setiap kebijakan keselamatan baru yang akan saya terapkan begitu saya keluar dari sini, dan mengundang keluarga korban, termasuk Anda, untuk mengawasi implementasinya secara langsung, seberapa pun lama waktu yang Anda butuhkan untuk benar-benar percaya."

Lihat selengkapnya