Di bilik ketiga, Marlina berhadapan dengan seorang pria muda berusia awal dua puluhan, wajahnya masih menyimpan kesedihan yang belum sepenuhnya sembuh—Andi, anak dari salah satu korban yang autopsinya pernah Marlina manipulasi tiga tahun lalu.
"Dokter Marlina," Andi memulai, suaranya penuh kepahitan yang tertahan. "Ayah saya meninggal karena kelalaian yang seharusnya bisa dicegah, tapi laporan Anda mengatakan itu bencana alam. Keluarga kami tidak pernah mendapatkan kompensasi yang layak karena laporan palsu itu."
Marlina merasakan beban rasa bersalah yang begitu berat, menyaksikan langsung konsekuensi nyata dari kebohongannya—bukan lagi sekadar angka dalam laporan, melainkan seorang pemuda yang kehilangan ayahnya dan hak kompensasi yang seharusnya ia terima sejak awal.
"Saya sangat menyesal," Marlina berkata, air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. "Saya membuat kesalahan besar yang merugikan keluarga Anda, demi menyelamatkan ibu saya sendiri yang sedang sakit kanker. Itu bukan alasan yang membenarkan tindakan saya, tapi itu adalah kebenaran di balik keputusan yang saya ambil."
Andi terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke layar. "Ibu Anda sudah sembuh sekarang?"
"Ya," Marlina menjawab pelan, merasa canggung membandingkan kesembuhan ibunya dengan kematian ayah Andi yang tak pernah bisa kembali, sebuah ketimpangan yang terasa begitu menyakitkan untuk diakui secara langsung.
"Setidaknya seseorang mendapatkan hasil baik dari kebohongan itu," Andi berkata, nadanya pahit namun tidak sepenuhnya menyalahkan. "Saya marah, Dokter Marlina, tapi saya juga mengerti dilema yang mungkin Anda hadapi. Saya hanya berharap ada cara lain yang bisa Anda tempuh, cara yang tidak mengorbankan keluarga kami untuk menyelamatkan keluarga Anda sendiri."
Di bilik lain, Alya menghadapi seorang wanita paruh baya yang matanya penuh amarah yang telah lama terpendam—Bu Wati, ibu dari salah satu pekerja yang selamat namun mengalami trauma berat yang belum pernah sembuh sejak tragedi itu terjadi.
"Anda punya bukti untuk menyelamatkan reputasi anak saya dari tuduhan kelalaian yang tidak adil," Bu Wati berkata tajam. "Tapi Anda memilih diam demi uang. Anak saya masih mengalami mimpi buruk setiap malam, dan tidak seorang pun tahu kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi karena artikel Anda tidak pernah tayang."
Alya menahan tangis, menyadari dampak yang jauh lebih luas dari keputusannya—bukan hanya kematian yang bisa dicegah, tapi juga trauma berkepanjangan bagi mereka yang selamat namun tak pernah mendapatkan pengakuan atas penderitaan mereka, dibiarkan berjuang sendirian dengan luka batin yang tak pernah divalidasi publik.
"Saya berjanji akan menerbitkan kebenaran itu, secepatnya," Alya berkata tegas. "Bukti-bukti masih saya simpan, dan saya akan memastikan dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi, termasuk kesaksian anak Anda jika ia bersedia berbagi, agar penderitaannya akhirnya mendapat pengakuan yang layak."
Hendra, di bilik lain, menghadapi kejutan yang tak pernah ia duga—bukan keluarga dari tragedi tambang ini, melainkan seorang pria dari proyek lain, proyek pembangunan perumahan di daerah rawan longsor yang izinnya ia percepat dua tahun lalu, salah satu dari tujuh proyek yang telah ia akui di ronde kedua.
"Rumah kami hancur bulan lalu," pria itu berkata, suaranya penuh kepahitan. "Longsor kecil, tidak ada korban jiwa, tapi seluruh yang kami miliki musnah. Saya baru tahu hari ini bahwa izin pembangunan itu dipercepat tanpa kajian lingkungan yang memadai."
Hendra merasakan dadanya sesak, menyadari bahwa dampak dari keputusannya telah menyebar jauh melampaui satu tragedi yang telah ia akui—sebuah jaringan kerusakan yang lebih luas dari yang pernah ia bayangkan, tersebar di berbagai daerah, menimpa keluarga-keluarga yang bahkan tak pernah ia ketahui namanya sebelum hari ini.
"Saya akan memastikan laporan tentang proyek itu juga diserahkan kepada pihak berwenang," Hendra berjanji, suaranya penuh tekad baru. "Dan saya akan mencari cara untuk membantu pemulihan rumah kalian, apa pun konsekuensinya bagi saya sendiri."